
Malang. Universitas Negeri Malang (UM) semakin meneguhkan dirinya sebagai kampus yang unggul dan rujukan dalam inovasi pembelajaran. Terbukti di masa pandemi ini, kampus yang diresmikan pada 1954 tersebut mengukuhkan empat guru besar baru sekaligus dalam acara yang berlangsung pada Kamis (19/11) di Graha Cakrawala UM.
Empat guru besar yang dikukuhkan dalam acara yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat itu adalah Prof. Dr. Andoko, S.T., M.T, Prof. Dr. Purnomo, S.T., M.Pd, Prof.Arif Nur Afandi, S.T., M.T., Ph.D, dan Prof. Dr.Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd.

Prof. Syaad Patmanthara yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang Teknologi Pembelajaran Teknik Informatika menyampaikan pidato berjudul Model Konseptual Online Learning untuk Meningkatkan Technical dan Employability Skill: Blended Learning Web Based Learning Game Based Learning dan Social Media Based Learning.
Sementara itu, Prof. Andoko menyampaikan pidato tentang Fatigue Failure Merupakan Penyebab Utama Kegagalan Material pada Konstruksi. Prof. Arif Nur Afandi menyampaikan pidato berjudul Intelligent Computation Dalam Sistem Tenaga Listrik Menyongsong Era Super Grid Indonesia. Dan Prof. Purnomo menyampaikan pidato berjudul Analisis Permintaan dan Persediaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan.

Acara diawali dengan pembukaan sidang terbuka oleh Ketua Senat UM Prof. Dr. H. Sukowiyono, S.H., M.Hum beserta jajarannya. Dilanjutkan dengan pidato yang disampaikan oleh keempat guru besar yang dikukuhkan. Dalam pidatonya Prof Andoko mengungkapkan bahwa tujuan utama desain fatigue adalah untuk memprediksi atau menghitung umur lelah material yang mengalami pembebanan.
Dilanjutkan dengan pidato selanjutnya oleh Prof. Purnomo yang memaparkan bahwa  guru adalah menempati garda terdepan dalam kelangsungan pendidikan di SMK, khususnya guru bidang produktif. ” Sedang untuk persediaan guru langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji atau mengevaluasi terhadap kapabilitas lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang diberi tanggung jawab mempersiapkan tenaga guru.

Sedang beberapa komponen dasar perhitungan persediaan guru yang harus dievaluasi dalam pemenuhan tuntutan tenaga guru meliputi: 1) Stok calon guru atau enrollment mahasiswa calon guru pada LPTK, 2) Lulusan tiap tahun untuk selama enam tahun yang lalu untuk melihat kecenderungan produksi LPTK, 3) Jenis dan jenjang program yang tersedia; 4) Kemampuan produksi tiap program yang ada; dan 5) Resources yang tersedia untuk kemungkinan pengembangan pada tahun berikutnya” paparnya.
Dilanjutkan dengan pidato yang ketiga oleh Prof. Arif Nur Afandi yang mengungkapkan bahwa energi listrik dewasa ini merupakan kebutuhan fital untuk menunjang pembangunan nasional dan pengembangan wilayah-wilayah dan daerad-daerah. “Dengan adanya Nusantara Power Grid, diharapkan energi listrik dapat dimanfaatkan dan diintegrasikan ke sistem lebih optimal, serta mampu menambahkan pasokan listrik lintas pulau dan menunjang pertumbuhan ekonomi pada pusat pembangunan” ungkapnya.

Pidato yang terakhir disampaikan oleh Prof. Syaad Patmanthara mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 ini membawa percepatan transformasi, khususnya dalam bidang pendidikan yang kini harus dilaksanakan secara online. Lebih lanjut, ia mengklaim bahwa pengalaman belajar bisa didapat melalui berbagai inovasi yang diterapkan pada pembelajaran blended (campuran online dan offline, red), pembelajaran berbasis web, game edukasi, dan media sosial.
Acara diakhiri dengan pengalungan medali guru besar oleh ketua Senat UM dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Pewarta: Arya Wahyu Pratama –Internship Humas UM
Pewarta Foto: Fatin Rona dan Fakhrun Nisa –Internship Humas UM
