
Abnormal Project Annual 7 (ALPA 7) kembali sukses digelar oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Seni dan Desain (HMD Sedesa) Universitas Negeri Malang (UM). ALPA 7 merupakan sebuah acara pembuka bagi serangkaian program kerja HMD Sedesa yang rutin digelar setiap tahunnya. Acara dilaksanakan secara luring di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) pada Jum’at-Sabtu (24-25/06) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Tema yang diangkat pada kegiatan kali ini adalah “Baur Lebur” yang mengandung banyak harapan, yakni bisa kembali membangun kekeluargaan diantara mahasiswa Sedesa untuk membaur dan melebur kembali dikala pandemi Covid-19 ini mulai mereda. Dengan mengajak seluruh mahasiswa Sedesa untuk kembali berkarya, pada kesempatan ini terdapat sejumlah 34 karya yang dipamerkan.
Ditemui untuk wawancara, Agnisa Maulani Wisesa, S.Sn., M.A., selaku pembina HMD Sedesa menuturkan bahwa bentuk dari seni sangatlah beragam. “Melalui ALPA 7 ini menunjukkan bahwa kemampuan seorang seniman tidak terbatasi dalam hal membuat sebuah karya seni, namun diluar hal tersebut juga mampu untuk mengatur dan memanajemen sebuah kegiatan, dan menambah pengalaman agar karya seni bisa lebih hidup dan bisa dinikmati. Karya yang dipamerkan dalam kegiatan ini berjumlah 34 karya yang itu semua berasal dari sivitas akademika UM,” ujarnya.
Acara ini mendapatkan banyak antusias dari berbagai kalangan, dengan sebagian besar kegiatannya berupa pameran dan pentas seni. Meski pandemi covid-19 mulai mereda, pengaturan regulasi akan jumlah pengunjung dan durasi waktu berkunjung tetap diterapkan, yakni jumlah pengunjung yang datang setiap harinya tidak lebih dari 190 orang dengan durasi waktu 10 menit untuk menikmati pameran di satu ruangan galeri.
Pada kesempatan yang sama, Ananda Bagus, selaku Koordinator divisi Acara ALPA 7 menyampaikan bahwa meski pandemi sudah mulai mereda, namun masih tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan. “Kami tetap menerapkan pengaturan mengenai jumlah pengunjung dan durasi berkunjung. Selain itu para pengunjung juga wajib untuk memakai masker, melakukan cek suhu di pintu masuk dan memakai hand sanitizer yang disediakan oleh panitia sebelum masuk ke lokasi pameran,” tuturnya.
Sementara itu ketua pelaksana ALPA 7, Abi Anggriawan mengungkapkan harapan acara ini bisa berjalan dengan lancar sampai akhir dan bisa menjadi tempat melebur para seniman Sedesa. “Baur Lebur sendiri mempunyai arti; Baur itu seperti halnya sebuah perjalanan seorang seniman. Tidak cukup pada tujuan utamanya saja, namun dalam perjalanannya seorang seniman harus bisa membaur dengan lingkungannya. Lalu untuk lebur sendiri menunjukkan sebuah sikap untuk saling bergotong royong, saling merangkul tanpa ada perbedaan, semuanya melebur untuk berproses dan berkarya bersama untuk menjadi seniman,” pungkas Abi.
Pewarta : Luthfi Maulida – Internship Humas



