
Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2024, Sabtu, (1/06), di lapangan Graha Rektorat UM.
Dalam amanatnya, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menekankan pentingnya untuk mempercayai para pengamat dan saksi sejarah dalam menentukan fakta sejarah terkait kapan lahirnya Pancasila, sebab diberbagai sosial media masih terjadi perdebatan kapan lahirnya Pancasila. Banyak yang mengatakan Pancasila lahir setelah Indonesia merdeka, bahkan mereka yang memperdebatkan hari lahirnya Pancasila adalah para pakar yang sudah bergelar doktor dan profesor.
Sebagai seorang sejarawan, beliau merujuk pada karya-karya sejarah. Dalam pengantar buku tentang lahirnya Pancasila yang diterbitkan Penerbit Guntur di Yogjakarta pada tahun 1947, Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Radjiman Wedyodiningrat, menyatakan bahwa kelahiran Pancasila adalah sebuah istilah yang awalnya diciptakan oleh tim yang dipimpinnya. Selain itu anggota penting BPUPK lainnya, termasuk Muhammad Hatta, yang dikenal sebagai sosok negarawan jujur dan sederhana, dalam berbagai tulisan dan pidatonya juga menegaskan bahwa kelahiran Pancasila adalah pada tanggal 1 Juni.

“Bapak Ibu, mengaitkan Pancasila sebagai falsafah negara analoginya membangun fondasi. Tidaklah mungkin fondasi dibangun setelah berdirinya sebuah bangunan. Oleh karena itu, mengklaim bahwa Pancasila lahir setelah 17 Agustus 1945 adalah analogi yang terbalik,” jelasnya.
Guru Besar Sejarah FIS UM tersebut juga mengajak peringatan Hari lahir Pancasila dapat dijadikan momentum untuk pembumian nilai-nilai Pancasila, dimana Pancasila harus menjadi gerakan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diharapkan Pancasila mampu mewarnai kehidupan dalam kegiatan sehari-hari. Tema “Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Emas 2024” menegaskan bahwa sinergi antar pelbagai elemen bangsa sangat diperlukan untuk mencapai Indonesia Emas. Nilai-nilai Pancasila harus diaktualisasikan melalui tindakan nyata dan karya yang konkret.
“Pancasila merupakan bintang penuntun yang membawa Indonesia pada gerbang kemajuan dan kemakmuran di era globalisasi teknologi dan informasi sekarang ini. Pancasila sebagai pandangan hidup memberikan landasan etis dan moral, sehingga setiap langkah yang diambil berpijak pada nilai-nilai kebangsaan yang luhur,kita juga harus menjadi teladan dalam mencerminkan etika, integritas, dan karakter,” jelasnya.
Selain itu, Bapak yang pernah menjabat Plt. Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI periode 2018-2020 tersebut menyampaikan tantangan kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat. Dikatakannya Maraknya penyebaran hoaks dan informasi yang memecah belah bangsa dan negara, disamping, terjadi kemerosotan nilai-nilai moral yang mengancam eksistensi nilai-nilai luhur bangsa bisa menimbulkan terkikisnya rasa empati dan peduli terhadap sesama.
’’Masifnya penggunaan teknologi dan ponsel pintar dalam mengakses informasi melalui beragam media harus dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk menyiarkan konten-konten dan narasi positif yang mencerminkan aktualisasi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,’’ tegasnya.
Sementara itu, untuk mencapai Indonesia Emas 2045 sangat dibutuhkan smart execusion, smart leadership, dan strong leadership yang berani dan pandai mencari solusi yang konstruktif. Peran perguruan tinggi sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif, membangun wawasan baru yang berpijak pada Pancasila sehingga dapat lahir SDM yang memiliki cara berpikir yang inovatif, transformatif, dan mempunyai keterampilan dan berkarya sebaik mungkin dengan menempatkan kaum milenial dan Gen-Z sebagai pelaku utama pembangunan bangsa. Sehingga cita-cita Indonesia Emas bisa tercapai. Keberhasilan tersebut tentu merupakan sumbangsih gotong royong seluruh anak bangsa dengan ideologi Pancasila sebagai fondasi dasarnya.

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila ini diikuti oleh Sivitas Akademika UM, yang terdiri para dosen, tenaga kependidikan, dan fungsionaris mahasiswa.
Pewarta: Syabiilah Azzahroh Widyatmoko Putri – Internship humas UM
Editor : Suhardi – Humas UM
