Mahrojan Arabi ke-18 2024 HMD Sastra Arab Universitas Negeri Malang yang telah resmi ditutup pada 4 Juli lalu, menyisakan berbagai cerita dan pengalaman berharga bagi para pesertanya. Dari hasil wawancara dengan beberapa juara, terungkap rasa bangga atas pencapaian mereka serta pesan-pesan untuk masa depan perlombaan ini.

Abdul Barr Nashir Syihab dari Lembaga Kursus Bahasa Arab El-Kaffah Center Malang, yang meraih gelar Ahsanul Mutakallim (Best Speaker) Munadhoroh Ilmiyyah, menyampaikan kebanggaannya. “Saya sangat bangga bisa meraih gelar ini. Pengalaman mengikuti Mahrojan Arabi sangat berharga karena memberikan banyak pelajaran dan memperluas wawasan saya. Saya berharap ke depan perlombaan Munadhoroh Ilmiyyah bisa lebih ditingkatkan dan mampu menarik lebih banyak peserta dari tingkat internasional,” ungkapnya.

Ahmad Nur Hafidh dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang menjadi Juara 1 Kaligrafi, juga merasakan hal serupa. “Meraih juara di ajang ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Selain kebanggaan, banyak pelajaran dan pengalaman baru yang saya dapatkan. Saya berharap di masa depan, perlombaan kaligrafi bisa lebih ditingkatkan sehingga bisa menarik perhatian lebih banyak seniman dari berbagai negara,” katanya.
Afriyandi Pamungkas dari Universitas Darussalam Gontor, yang berhasil meraih Juara 1 Lomba Khotobah, turut menyampaikan rasa bangganya. “Menjadi juara dalam lomba khotobah ini sangat membanggakan bagi saya. Selain sebagai ajang unjuk kemampuan, Mahrojan Arabi memberikan banyak pengalaman berharga. Saya berharap lomba khotobah bisa terus dikembangkan dan mungkin di masa depan bisa menjadi perlombaan tingkat internasional,” ujar Afriyandi.

Para juara ini tidak hanya membawa pulang piala dan penghargaan, tetapi juga pesan penting untuk pengembangan Mahrojan Arabi di masa mendatang. Mereka berharap perlombaan seperti kaligrafi, khotobah, dan munadhoroh ilmiyyah yang saat ini masih bersifat nasional dapat ditingkatkan menjadi ajang internasional, menyusul 2 perlombaan yang telah bertingkat Internasional yaitu Ghina’ Arabi dan juga MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an), sehingga semakin banyak peserta dari berbagai negara yang bisa ikut berpartisipasi dan membawa Mahrojan Arabi ke level yang lebih tinggi.
Mahrojan Arabi 2024 memang telah usai, namun semangat, pengalaman, dan pesan dari para pesertanya akan terus bergema, membawa harapan untuk acara yang lebih besar dan lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Pewarta: Tri Anggara Medhi Sampurno
Editor: Suhardi-Humas UM
