
Malang – Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat komitmennya terhadap etika publikasi ilmiah dengan menggelar Workshop dan Evaluasi Penggunaan Akun Turnitin Tahun 2025. Acara yang diadakan pada Rabu (14/5) oleh Pusat Etik Ilmiah (PEI), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepatuhan sivitas akademika terhadap penggunaan Turnitin secara tepat guna.
Ketua LPPM UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., membuka acara ini dengan menekankan pentingnya Turnitin sebagai alat untuk menjaga orisinalitas karya ilmiah. “Penggunaan Turnitin harus dilakukan secara benar dan sesuai ketentuan. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan akademik kita untuk memastikan setiap karya ilmiah dari sivitas UM memiliki orisinalitas tinggi,” ujar Prof. Markus.
Acara ini menghadirkan dua narasumber utama. Dr. Herlin Pujiarti, M.Si., Kepala PEI LPPM UM, menjelaskan kebijakan terbaru terkait penggunaan Turnitin, termasuk pedoman dalam bimbingan dan publikasi ilmiah. “Turnitin bukan hanya alat pemeriksa kemiripan, tetapi juga alat edukasi. Nilai orisinalitas adalah tanggung jawab keilmuan, bukan sekadar soal skor,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Citra Kurniawan, S.T., M.M., Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Plagiarisme Akademik (TP3A), memberikan pembekalan teknis terkait penggunaan Turnitin untuk cek kemiripan (similarity) dan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam penyusunan karya ilmiah. “Pengguna akun Turnitin harus memanfaatkannya secara bijak dan sesuai aturan UM. Ini penting untuk menjaga integritas akademik,” tegas Dr. Citra.
Sebanyak 70 peserta yang terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan dari berbagai fakultas serta perwakilan lembaga di UM berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sesi diskusi berlangsung aktif, dengan peserta menyampaikan berbagai kendala lapangan dan memperoleh solusi langsung dari para narasumber.
Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) nomor 4, yaitu pendidikan berkualitas. Dengan memanfaatkan Turnitin secara optimal, UM berharap dapat menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat, produktif, dan bebas dari plagiarisme. Evaluasi berkelanjutan ini juga memperkuat budaya ilmiah yang jujur dan bertanggung jawab di kalangan sivitas akademika.
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
