
Malang – Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Seni Tari dan Musik (PSTM) Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan penampilan karya sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) pada Kamis (5/6). Acara tahunan yang digelar di Outdoor Learning Space (OLS) UM ini melibatkan dua mata kuliah, yaitu Tari Bali untuk angkatan 2023 dan Tari Pendidikan Non Tradisi untuk angkatan 2022.
Dr. Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si, selaku dosen tari, menjelaskan bahwa ujian bersama ini rutin digelar setiap semester. “Pada mata kuliah Tari Bali, terdapat empat kelompok yang menyajikan tari Pendet (gaya penyajian tari putri) dan tari Margapati (gaya penyajian putra). Kompetensi utama yang diharapkan adalah kemampuan mahasiswa dalam menguasai bentuk, teknik, dan gaya penyajian tari Bali, baik untuk putra maupun putri,” ungkap Tri.
Menurut Dr. Tri, hasil uji kompetensi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa PSTM dalam mengembangkan berbagai bentuk dan teknik tari. “Harapannya, mahasiswa PSTM memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai calon pendidik seni budaya yang mumpuni dan profesional di bidangnya,” tegasnya.
Sementara itu, pada mata kuliah Tari Pendidikan Non Tradisi yang diikuti oleh 74 mahasiswa angkatan 2022 dari offering T1 dan T2, mereka terbagi menjadi 13 kelompok. “Ujian ini menuntut mahasiswa untuk menyusun koreografi tari pendidikan dengan berbagai jenis tari mancanegara yang kemudian diajarkan kepada siswa SMP dan SMA hingga dapat ditampilkan dengan baik,” tambah Tri.
Winda Istiandini, S.Pd., M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Tari Pendidikan Non Tradisi, menekankan pentingnya integrasi teori dan praktik dalam proses pembelajaran ini. “Tarian ini tidak hanya menjadi hasil inovasi, tetapi juga pengalaman belajar langsung. Mahasiswa menciptakan karya tari dari genre mancanegara seperti balet, waltz, hip-hop, flamenco, salsa, cha-cha, dan hula, lalu mengajarkannya kepada siswa,” jelas Winda.
Winda juga mengapresiasi semangat mahasiswa dalam memodifikasi genre tari agar relevan dengan konteks pendidikan. “Tampilan kali ini di OLS UM merupakan penutup semester yang inspiratif dan menjadi perayaan keragaman budaya,” tambahnya.
Gesang Bayu Pamungkas, salah satu mahasiswa penampil, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah mengelola waktu. “Waktu satu semester sangat terbatas karena harus membagi dengan mata kuliah lain,” tuturnya. Namun, ia bangga dengan kerja sama kelompoknya yang berhasil mengajarkan tarian kepada siswa dengan baik.
Model pembelajaran seperti Project-Based Learning memberikan pengalaman unik bagi mahasiswa. Selain belajar membuat karya seni, mereka juga mengaplikasikannya dalam konteks pendidikan dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan SDGs poin 4, yaitu memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar membaca atau menulis, tetapi juga merancang, melaksanakan, dan menghasilkan karya yang relevan dengan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.
Pewarta: Trisna Marsadi – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
