Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Departemen Sastra Inggris Fakultas Sastra UM menyelenggarakan Australia Indonesia Film Festival 2025: ReelOzInd!

Malang — Riuh antusias mahasiswa memenuhi Aula A20 GKB Universitas Negeri Malang (UM) saat Australian Consulate-General berkolaborasi dengan UPT Perpustakaan UM dan Departemen Sastra Inggris Fakultas Sastra menyelenggarakan Australia Indonesia Film Festival 2025: ReelOzInd! pada Kamis (27/11). Festival ini menjadi ruang apresiasi sinema sekaligus penguatan literasi audiovisual yang terus UM dorong dalam lingkup akademik.

Pada edisi tahun ini, sembilan film terbaik diputar sebagai nominasi utama, antara lain Leleng, Wadjemup Wirin Bidi, Buried in Time, Fallow, Fighting For The Future, Hurt People, Hurt People, Running Away, Elephant, serta Aku, Kau, dan Kursi Itu. Ragam tema manusia, budaya, dan isu sosial dalam film-film tersebut menghadirkan interpretasi mendalam bagi para penonton.

Sesi diskusi setelah penayangan film menghadirkan tiga pakar: Dyna Herlina Suwarto, Ph.D.; Gaston Soehadi, Ph.D.; dan Marjito I. T. Gunawan, S.I.Kom., M.I.Kom., dengan Prof. Evi Eliyanah, M.A., Ph.D., sebagai moderator.

Dyna Herlina menegaskan bahwa makna film selalu terbuka bagi siapa pun. “Interpretasi adalah hasil pengalaman personal yang berbeda. Setiap penonton membawa pulang makna yang unik,” ujarnya.

Gaston Soehadi menambahkan bahwa tugas sineas pada hakikatnya sederhana namun krusial. “Sineas hanya perlu menemukan ide dan mengeksekusinya. Hidup adalah waktu, dan kita adalah budak waktu,” katanya, disambut tepuk tangan meriah.

Sementara itu, Marjito I. T. Gunawan menyoroti peran film sebagai ekspresi kreatif atas keresahan sosial. “Keresahan yang diformulasikan menjadi film adalah cara sineas menyampaikan gagasan melalui bahasa visual,” jelasnya.

Respons positif mengalir dari mahasiswa. Syakira, mahasiswi Sastra Inggris, mengaku terbawa arus emosi selama pemutaran. “Mood saya naik turun mengikuti alur. Elephant menjadi favorit saya karena menghadirkan keharuan yang kuat,” tuturnya.

Naura, mahasiswi Sastra Inggris lainnya, menyampaikan apresiasi mendalam. “Saya sangat tersentuh saat menonton Aku, Kau, dan Kursi Itu. Representasi ayah dalam film tersebut begitu emosional,” ujarnya.

Melalui ReelOzInd! 2025, UM menegaskan perannya sebagai ruang pertukaran budaya Indonesia–Australia sekaligus mendorong kepekaan generasi muda terhadap isu sosial dan kreativitas sinematik. Dengan kuatnya antusiasme mahasiswa, festival ini menjadi bukti UM terus berkembang sebagai pusat literasi audiovisual di Indonesia.

Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it