Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf

Selangor – Universitas Negeri Malang (UM) terus mendorong mahasiswanya dalam memperluas wawasan global melalui berbagai program mobilitas internasional, salah satunya Outbound Student Mobility FAB Summer School yang dilaksanakan pada 7–20 September 2025 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Tidak hanya sebatas di ruang kelas, proses belajar kini semakin terbuka melalui pengalaman lintas budaya dan internasional.

Kesempatan itu dirasakan langsung oleh Jihan Lilie Nur Saajidah, mahasiswa Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Malang (PNF UM) angkatan 2024. Awalnya, Jihan menjalani perkuliahan seperti biasa hingga sebuah informasi program mobilitas internasional dibagikan di grup mahasiswa oleh dosen PNF UM, Kukuh Miroso Raharjo, S.Pd., M.Pd. Informasi tersebut memantik ketertarikannya, terlebih kuota peserta yang terbatas membuat program ini terasa menantang.

Keinginan Jihan untuk mendaftar juga tumbuh dari cerita kakak tingkat yang pernah mengikuti program Summer School ke luar negeri. Meski sempat masuk daftar tunggu akibat tingginya jumlah pendaftar, peluang akhirnya datang ketika beberapa peserta mengundurkan diri. Jihan kemudian diminta memastikan kesiapan, mulai dari kemampuan bahasa Inggris, kepemilikan paspor, hingga komitmen mengikuti program secara penuh.

“Sebenarnya ragu, tapi ragu itu sedikit banget, keinginan untuk mencoba jauh lebih besar,” ujar Jihan.

Dukungan dosen dan lingkungan kampus UM semakin menguatkan langkahnya. Selama mengikuti Outbound Student Mobility FAB Summer School di UiTM, Jihan menghadapi pengalaman baru, mulai dari pertama kali naik pesawat, belajar di luar negeri, hingga berinteraksi dengan mahasiswa multikultural. Seluruh materi disampaikan dalam bahasa Inggris dan berfokus pada dasar-dasar penelitian akademik.

“Aku sempat bingung di awal karena materinya cukup berbeda, tapi pelan-pelan bisa mengikuti,” tuturnya.

Menariknya, tantangan budaya tidak menjadi hambatan berarti. Lingkungan asrama yang ramah serta kemiripan bahasa Melayu membuat proses adaptasi berjalan lancar. Dari pengalaman itu, Jihan menyadari pentingnya membuka diri terhadap peluang global.

“Sebelumnya aku merasa dunia itu kecil, sekarang aku sadar banyak peluang dan harus terus improve diri,” ungkapnya.

Bagi Jihan, program ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan titik balik cara pandangnya tentang belajar dan masa depan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa UM agar tidak ragu mengambil kesempatan mobilitas internasional.

“Kalau ada peluang, jangan takut mencoba,” tutupnya.

Pewarta: Catharina Apriliandari Andreanti – Mahasiswa FIP UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it