Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf

Malang – Menggugah perhatian publik, tanaman janggelan yang selama ini identik sebagai bahan cincau hitam ternyata menyimpan potensi besar di sektor kesehatan dan ekonomi. Di berbagai wilayah pedesaan, tanaman ini kerap dianggap biasa, padahal memiliki nilai strategis yang mampu mendorong industri berbasis sumber daya lokal.

Di Kabupaten Ponorogo, khususnya Kecamatan Ngrayun, janggelan tumbuh subur dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur mencatat, janggelan dari wilayah ini memiliki kandungan serat terbaik kedua di dunia serta kualitas yang kompetitif di pasar global.

Secara ilmiah, janggelan (Platostoma palustre) mengandung senyawa penting seperti flavonoid, polisakarida, dan antioksidan. Kandungan tersebut membuka peluang pemanfaatan di bidang kesehatan, pangan fungsional, hingga industri farmasi. Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (UM), Naufal Wima Al Fahri, menilai potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Janggelan tidak hanya bahan cincau, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan fungsional dan bahan baku industri kesehatan berbasis lokal,” ujarnya.

Lebih jauh, penelitian menunjukkan bahwa janggelan memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang berperan dalam melawan radikal bebas. Kondisi ini relevan dengan upaya pencegahan berbagai penyakit, seperti diabetes, hipertensi, dan kanker. Sejumlah studi laboratorium juga menemukan potensi janggelan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Meski masih dalam tahap awal, temuan ini membuka peluang pengembangan obat berbasis bahan alami di masa mendatang.

Dari sisi ekonomi, peluang janggelan dinilai sangat besar. Permintaan global, terutama dari Tiongkok, terus meningkat, sementara kapasitas produksi masih terbatas. Namun, di tingkat petani, janggelan umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan harga relatif rendah. Minimnya inovasi pengolahan menjadi tantangan utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas ini.

Naufal menekankan pentingnya pendekatan bioprospeksi untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

“Jika diolah secara inovatif, janggelan dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi seperti teh herbal, suplemen kesehatan, hingga komoditas ekspor,” jelasnya.

Selain itu, keunggulan janggelan yang mampu tumbuh di lahan marginal menjadikannya solusi alternatif pemanfaatan lahan kurang produktif. Dengan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan, tanaman ini berpotensi menjadi komoditas unggulan daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pengembangan janggelan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin 3 (Good Health and Well-being), poin 8 (Decent Work and Economic Growth), dan poin 12 (Responsible Consumption and Production). Optimalisasi tanaman lokal ini tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ekonomi berbasis potensi daerah.

Janggelan menjadi bukti bahwa potensi besar dapat lahir dari hal sederhana. Dengan pengelolaan yang tepat, tanaman ini berpeluang naik kelas dari produk tradisional menjadi komoditas global bernilai tinggi.

Pewarta: Luthfi Maulida Rochmah – Fasilitator YBM BRILiaN
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it