Skip to content
image_pdf

Malang – Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan Universitas Negeri Malang (BPK3 UM) berkolaborasi dengan Peer Counseling Corner (PCC) UM menggelar Pelatihan Psychological First Aid (PFA) secara daring melalui Zoom Meetings pada Sabtu (19/9) untuk membekali civitas akademika dan masyarakat dengan pemahaman dasar dalam mengenali serta memberikan pertolongan awal terhadap masalah kesehatan mental. Kegiatan tersebut diikuti 323 peserta yang terdiri atas tenaga kependidikan, mahasiswa UM, dan masyarakat umum, serta dihadiri Kepala Pusat BPK3 UM, Dr. Hetti Rahmawati, S.Psi., M.Si., dan dosen Fakultas Psikologi UM, Dwi Nikmah Puspitasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari komitmen UM dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat, aman, dan peduli terhadap kesehatan mental. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan kehidupan sosial, kepedulian terhadap kondisi psikologis perlu dibangun secara bersama-sama agar civitas akademika mampu mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental dan memberikan dukungan yang tepat.

Depresi dan kecemasan menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang berdampak terhadap kualitas hidup. Karena itu, kepedulian untuk membangun lingkungan yang mendukung pemulihan dan kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui Psychological First Aid atau pertolongan pertama psikologis, yakni pendekatan awal yang bersifat suportif, praktis, dan tidak menghakimi untuk membantu mengurangi tekanan psikologis setelah seseorang mengalami situasi yang berat.

Melalui pelatihan PFA, UM mendorong peserta untuk memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama dalam hal kemampuan mendengarkan, memberikan dukungan awal, dan menghubungkan individu yang membutuhkan dengan tenaga profesional.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar untuk menciptakan ruang aman demi mengurangi dampak negatif distress. Melalui PFA, kami berusaha menumbuhkan awareness kepada masyarakat bahwa kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” ujar Dwi Nikmah Puspitasari dalam pemaparannya.

Pada sesi materi, peserta diperkenalkan dengan tiga prinsip utama PFA, yaitu Look, Listen, dan Link. Look merupakan tahap awal untuk mengamati kondisi, perilaku, dan perubahan yang dialami seseorang. Listen dilakukan dengan menjadi pendengar yang fokus terhadap cerita seseorang tanpa menghakimi. Sementara itu, Link merupakan upaya menghubungkan individu yang membutuhkan bantuan lebih lanjut dengan sumber dukungan atau tenaga profesional, seperti psikolog dan psikiater.

Dwi menjelaskan, perubahan perilaku yang terjadi secara berulang dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang-orang di sekitar. Menurutnya, indikasi masalah kesehatan mental tidak selalu terlihat dari kondisi emosional, tetapi juga dapat muncul melalui perubahan kognitif, fisik, dan perilaku.

“Jika kalian melihat teman yang awalnya berpakaian rapi dan wangi lalu tiba-tiba menjadi tidak terawat, bajunya lusuh, berantakan, dan fenomena tersebut terjadi berulang, kalian harus bertanya apakah dia baik-baik saja. Tanda-tanda adanya indikasi masalah kesehatan mental bukan hanya dapat dilihat melalui kondisi emosional, tetapi juga dari kondisi kognitif, fisik, dan perilaku,” jelas Dwi.

Ketiga prinsip tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat nonprofesional dengan tetap memperhatikan etika dalam memberikan pertolongan awal. Melalui penerapan Look, Listen, dan Link secara tepat, civitas akademika UM dan masyarakat umum diharapkan mampu membangun lingkungan yang saling mendukung, aman, dan peduli terhadap kesehatan mental.

Pelatihan tidak hanya berisi penyampaian materi secara teoretis, tetapi juga dilengkapi sesi role-play yang didampingi anggota PCC UM. Sesi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami penerapan prinsip Look, Listen, dan Link melalui simulasi dengan peran sebagai helpee maupun First Aider.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara kognitif, tetapi juga belajar mengembangkan empati dan kesiapan dalam menghadapi situasi yang membutuhkan dukungan psikologis. Peserta juga dapat memahami batasan peran First Aider sehingga bantuan profesional tetap menjadi rujukan ketika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pada akhir pelatihan, peserta menyampaikan kesan dan pengalaman selama mengikuti sesi role-play. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa tantangan utama sebagai First Aider adalah memahami kondisi emosional helpee, terutama ketika orang yang dibantu belum terbuka atau menolak bantuan.

“Menurut saya, tantangan saat sesi role-play tadi ketika menjadi First Aider karena belum bisa masuk secara emosional dengan apa yang dirasakan helpee. Apalagi helpee bersikukuh merasa baik-baik saja dan tidak ingin ditolong. Jadi, First Aider bingung ingin menanggapi atau berperilaku seperti apa,” ungkap salah satu peserta.

Pelaksanaan Pelatihan PFA menjadi salah satu bentuk kepedulian UM dalam mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan sejahtera. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan mental, serta SDGs 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam memberikan dukungan awal terhadap persoalan kesehatan mental.

Melalui kegiatan tersebut, UM tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga mendorong kesadaran terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Penguatan kapasitas civitas akademika dan masyarakat dalam memberikan dukungan psikologis secara tepat diharapkan dapat turut membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan peduli terhadap sesama.

Pewarta: Zahra Medina Nur Alia – Internship Humas UM
Fotografer: Dokumentasi Panitia
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it