Malang – Universitas Negeri Malang (UM) mendorong optimalisasi pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) bagi sivitas akademika melalui pelatihan “AI for Teaching and Research” pada Senin (21/9) di GKB A20. Kegiatan yang bekerja sama dengan REFO Indonesia sebagai mitra Google for Education ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan dosen dalam memanfaatkan AI, khususnya Gemini, untuk mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Pelatihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UM mengoptimalkan berbagai layanan digital yang telah disediakan bagi sivitas akademika, khususnya dosen.
Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, menekankan bahwa berbagai layanan digital yang telah dilanggan universitas perlu dimanfaatkan secara optimal oleh sivitas akademika. Menurutnya, UM telah berinvestasi pada sejumlah produk digital untuk mendukung pendidikan dan pengembangan akademik. Karena itu, pemanfaatan layanan tersebut perlu diperkuat melalui sosialisasi dan pelatihan.
“Aplikasi yang kita gunakan ternyata kemanfaatannya belum maksimal. Karena itu, hari ini ketika mendapatkan informasi bahwa mitra dari Google akan memberikan pelatihan, saya langsung menunjukkan bahwa ini harus dilakukan karena ini bagian dari sosialisasi dan memberikan layanan yang terbaik kepada seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi dosen dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kompetensi digital sekaligus memperoleh rekognisi melalui sertifikasi. Peserta didorong untuk tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan, tetapi melanjutkan pengembangan kompetensi hingga memperoleh sertifikasi Google yang relevan.
“Saya sangat menyarankan dan mendorong Bapak-Ibu untuk bisa mengikuti terus sampai mendapatkan sertifikat dari Google karena itu bisa bermanfaat sebagai rekognisi,” tambahnya.
Selain dosen dan tenaga kependidikan, UM mendorong agar informasi mengenai fasilitas Google for Education dapat tersampaikan kepada mahasiswa. Optimalisasi layanan tersebut penting agar seluruh sivitas akademika mengetahui fasilitas digital yang tersedia dan dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan akademik. Langkah ini sekaligus mendukung penguatan ekosistem pembelajaran digital yang inklusif dan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Program Consultant dan Tech Consultant REFO Indonesia sekaligus Google Certified Trainer, Hidayatur Rahman R., menjelaskan bahwa REFO merupakan mitra Google sejak 2018 yang berfokus pada pelatihan dan pendidikan. Dalam sesi pelatihan, ia memperkenalkan konsep dasar AI, mulai dari machine learning dan large language model (LLM) hingga generative AI yang dapat menghasilkan berbagai bentuk konten, seperti teks, gambar, dan video.
“Generative AI itu tujuannya untuk menghasilkan konten baru,” jelas Hidayatur kepada peserta.
Hidayatur juga menekankan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan perguruan tinggi harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan. Ia mengingatkan peserta mengenai sejumlah tantangan dalam penggunaan AI, seperti bias, halusinasi atau informasi yang tidak akurat, serta perlindungan data pribadi.
“AI itu punya bias, sama seperti kita manusia. Karena itu, kita harus memperhatikan hal tersebut ketika menggunakan AI,” jelasnya.
Dalam konteks penelitian, peserta juga diarahkan untuk menerapkan prinsip data minimization ketika menggunakan AI. Hidayatur menjelaskan bahwa data yang dimasukkan ke dalam AI sebaiknya hanya data yang benar-benar diperlukan untuk menjawab kebutuhan analisis. Sementara itu, informasi sensitif, seperti nama, alamat, dan identitas responden, perlu disamarkan atau dihilangkan. Penggunaan akun institusi juga ditekankan sebagai salah satu langkah untuk menjaga keamanan data akademik dan pekerjaan sivitas akademika.
Pelatihan turut memperkenalkan strategi penyusunan prompt agar hasil AI lebih relevan dengan kebutuhan pengguna. Peserta diarahkan untuk memberikan informasi mengenai peran atau persona, tujuan, target penerima, gaya bahasa, serta struktur keluaran yang diharapkan.
“Ini salah satu teknik supaya hasil kita dengan AI bisa lebih personal dan lebih nyambung,” terang Hidayatur.
Melalui kegiatan tersebut, UM berupaya membangun kompetensi sivitas akademika agar mampu menggunakan AI secara produktif, etis, dan bertanggung jawab dalam mendukung tridarma perguruan tinggi. Penguatan kompetensi digital pendidik dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam penguatan kapasitas pendidik dan peningkatan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Selain itu, pemanfaatan AI untuk mendukung pendidikan dan penelitian juga berkaitan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Penggunaan teknologi secara tepat guna dapat mendorong inovasi dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ekosistem digital perguruan tinggi.
Dengan adanya pelatihan ini, UM berharap pemanfaatan fasilitas digital yang telah tersedia dapat semakin luas dan tepat guna di lingkungan kampus. Dosen dan tenaga kependidikan diharapkan mampu mengintegrasikan AI dalam aktivitas akademik dengan tetap memperhatikan verifikasi informasi, etika, dan keamanan data. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berpusat pada manusia.
Pewarta: Nazhifa Filza Darayanicha – Internship Humas UM
Fotografer: Naila Zafiroh – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

