Skip to content
image_pdf

Malang – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan inklusif melalui asesmen lapangan Program Studi Magister (S2) Pendidikan Khusus (PKH), Kamis (25/6). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memverifikasi dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED), meningkatkan mutu akademik, serta memperkuat posisi UM sebagai kampus ramah disabilitas yang berdaya saing nasional dan global. Asesmen dibuka di Graha Rektorat Lantai 8 UM dan dilanjutkan di Gedung D6 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM.

Asesmen lapangan dilaksanakan untuk memverifikasi dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) sekaligus memastikan kesesuaiannya dengan implementasi di lapangan. Pembukaan kegiatan berlangsung di Graha Rektorat Lantai 8 UM, sedangkan proses asesmen dilaksanakan di Gedung D6 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM. Tim asesor terdiri atas Prof. Dr. Bastiana, M.Si. dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Pujaningsih, M.Pd., Ed.D. dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dekan FIP UM, Dr. Ahmad Yusuf Sobri, S.Sos., M.Pd., menegaskan bahwa kebutuhan tenaga pendidik di bidang pendidikan khusus terus meningkat sehingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak sumber daya manusia yang kompeten.

“Saat ini pendidikan khusus harus diperhatikan lebih baik karena permintaan masyarakat di berbagai daerah terhadap guru-guru pendidikan khusus terus meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara tingginya kebutuhan guru pendidikan khusus dengan jumlah lulusan yang tersedia. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi UM untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sehingga semakin banyak generasi muda tertarik mengabdikan diri di bidang pendidikan khusus.

Sementara itu, tim asesor menyampaikan bahwa asesmen lapangan bukan sekadar proses penilaian akreditasi, melainkan juga ruang berbagi praktik baik antarperguruan tinggi guna meningkatkan kualitas pendidikan khusus di Indonesia.

“Kami tidak hanya menilai LED, tetapi juga ingin bertumbuh bersama dan saling bertukar pengalaman serta informasi untuk mewarnai kualitas pendidikan khusus,” ujar tim asesor dari UNY.

Melalui asesmen ini, UM memperoleh masukan untuk memperkuat tata kelola akademik, layanan mahasiswa, serta pengembangan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Di sisi lain, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara UM, UNM, dan UNY dalam mengembangkan pendidikan khusus yang berkualitas.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kampus inklusif, UM terus menghadirkan berbagai fasilitas yang mendukung aksesibilitas bagi mahasiswa berkebutuhan khusus. Infrastruktur kampus telah dilengkapi guiding block, sejumlah penunjuk arah menggunakan huruf Braille, tersedia wadah pembelajaran bahasa isyarat melalui UKM Gempita, serta layanan Sistem Informasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (SIMBK) untuk memudahkan akses informasi akademik.

Wakil Dekan I FIP UM, Dr. Sri Wahyuni, M.Pd., menjelaskan bahwa berbagai fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang setara dan bebas diskriminasi.

“Jalanan di UM telah dilengkapi guiding block, sejumlah petunjuk di FIP menggunakan huruf Braille, kami juga memfasilitasi sivitas akademika yang ingin belajar bahasa isyarat maupun terjun langsung mendampingi anak berkebutuhan khusus melalui UKM Gempita. Selain itu, tersedia portal SIMBK untuk mendukung akses informasi mahasiswa berkebutuhan khusus,” jelasnya.

Selain memenuhi berbagai indikator penilaian akademik, Program Studi S2 PKH UM juga aktif melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berbagai program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan layanan pendidikan inklusif, pendampingan penyandang disabilitas, serta penguatan kompetensi tenaga pendidik di berbagai daerah.

Sinergi antara universitas, fakultas, dan program studi diharapkan mampu melahirkan lulusan yang profesional, adaptif, dan berdaya saing global dalam bidang pendidikan khusus. Hasil asesmen ini juga menjadi pijakan bagi S2 PKH UM untuk terus meningkatkan mutu akademik sekaligus memperkuat perannya sebagai program studi rujukan dalam pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia.

Komitmen UM tersebut sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata, SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan memperluas akses bagi penyandang disabilitas, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antarpenguruan tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan khusus di Indonesia.

Pewarta : Zahra Medina Nur Alia – Internship Humas UM
Fotografer : Mumtaz Amaratine – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it