image_pdf
Istiqomah saat menjelaskan bagaimana menjadi editor yang baik

Surabaya. Menjadi seorang editor buku itu butuh ketekunan danketelitian dalam memahami setiap teks yang diberikan oleh penulis. Editor buku sangat dibutuhkan saat ini dimana banyak sekali tuntutan dari berbagai sektor untuk menerbitkan buku atau artikel ilmiah. Nuri Riskian mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) berkesempatan mengikuti kelas editor ini. Pelatihan ini bertempat di Aula Kenanga Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur pada Sabtu-Ahad (7-8/3).

Kelas Editor ini yang diselenggarakan oleh Ikatan Pendidik Penulis (IPP) Jatim dan MediaGuru Indonesia. Narasumber dalam kegiatan ini Istiqomah yang merupakan alumni Universitas Negeri Malang dan Mislinatul Sakdiyah. Peserta pelatihan editor ini berjumlah 63 orang yang berasal dari berbagai instansi di Jawa Timur. Mulai guru, kepala sekolah, praktisi pendidikan sampai mahasiswa yang ingin belajar untuk mengedit sebuah buku.

Foto bersama seluruh peserta dan narasumber

Peserta selain diajari menyunting buku juga diajari untuk mengetahui ejaan yang benar melalui Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan tata Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kedua buku ini menjadi pegangan wajib para peserta sebelum mereka terjun menjadi seorang editor. Perlu adanya kejelian dan ketekunan peserta untuk mampu menganalisis kesalahan pada buku.

Istiqomah menjelaskan bagaimana tips menjadi editor yang baik. “Editor menjadi gawang pertama untuk mengawal tulisan para penulis sebelum masuk ke meja penerbit. Ada 3 keuntungan menjadi seorang editor buku yaitu dapat previlage untuk membaca buku yang disunting secara gratis, editor juga mampu menjadi seorang penulis hebat, dan memiliki kesempatan besar untuk berkembang,” ujarnya.

Dilanjutkan oleh Mislinatul Sakdiyah yang menjelaskan bagaimana syarat menjadi seorang editor buku. “Seorang editor harus menguasai ejaan, tata bahasa, bersahabat dengan kamus, memiliki kepekaan bahasa, pengetahuan luas, ketelitian dan kesabaran, kepekaan terhadap SARA dan Pornografi, luwes, kemampuan menulis, memiliki kemampuan dalam bidang tertentu, mampu berbahasa asing, serta paham akan kode etik penyuntingan naskah,” ujarnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan pendampingan selama 1 bulan untuk menyunting beberapa naskah yang berbeda-beda tingkat kesulitannya. Dimulai dengan tingkat mudah sampai tingkat sulit diujikan untuk memberikan pengalaman menyunting buku.

Pewarta: Nuri Riskian-Internship Humas UM