image_pdf

Jepang. Belajar Pengelolaan sampah di lingkungan bisa dari mana saja, salah satunya dari kegiatan student exchange di Environmental Engineering Kitakyushu University. Hal inilah yang mendorong salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang untuk mengikuti Sakura Exchange Program. Dengan mengirimkan sebuah esay berjudul “garbage and ocean” mampu mengantarkan Julianna Jasmine untuk belajar tentang energi terbarukan di Kitakyushu University, Jepang.

Pada (20-29/1) dilaksanakan kunjungan di Kitakyushu Ecotown Project yang merupakan daerah edukasi dan penelitian tentang lingkungan terutama lingkungan industry. Kegiatan ini bertumpu pada bidang reuse dan recycling serta pembangkit listrik terbarukan yang ramah lingkungan. Industri yang bergerak di Ecotown itu saling butuh satu sama lain.

Berawal dari keprihatinan warganya pada tahun 1901, Kitakyushu berubah menjadi salah satu kota industri modern di Jepang. Seiring dengan berkembangnya industri tersebut, polusi yang dihasilkan kian meningkat. Buruknya polutan berat yang ada di Kitakyushu menyebabkan kota ini dijuluki dengan “Sky with Seven Colors of Smoke” dan “Sea of Death”. Sehingga timbulah ide untuk membuat tempat ini yaitu Kitakyushu Ecotown Project dalam mengolah sampah di daerah ini.

Hampir semua macam sampah yang diolah di Kitakyushu Ecotown Project, beberapa diantaranya. Pertama, reguler waste ini kayak sisa makanan dapur yang nantinya akan dijadikan kompos di Tanoshi Compos Centre yang komposnya digunakan untuk petani di Jepang. Kedua, pengolahan minyak dapur bekas (minyak jelantah) yang nantinya bisa dijadikan pembuatan material cat.

Ketiga, pengolahan botol dan plastik waktu recycling dimana PET Bottle Recycling yaitu mengubah botol jadi serpihan (flakes) dan butiran (pellets) plastik yang nantinya akan dijadikan dasar pembuatan plastik kembali. Botol yang digunakan di Jepang 97% berasal dari butiran yang telah di recycling sedangkan sisanya dari buatan baru. Sementara itu, serpihan sendiri nantinya akan di antar ke perusahaan yang akan mengubah serpihan itu menjadi kapas polyester.

Julianna Jasmine mahasiswa Elektro Universitas Negeri Malang menceritakan pengalamannya di ecotown ini. “Kitakyushu mampu membuat Ecotown untuk memperbaiki lingkungan di daerahnya. Hal inilah yang menjadi ilmu yang baik bagi saya untuk membangun Indonesia menyongsong masa depan menjadi lebih baik. Hanya masalah waktu yang diiringi dengan keinginan kuat, Indonesia dapat berubah menjadi negara ramah lingkungan,” ujarnya.

Selain diolah menjadi barang di Kitakyushu Ecotown Project juga memiliki pembangkit energi terbarukan. Dapat dilihat di gambar yaitu 10 turbin pembangkit tenaga angin di pinggir laut yang menghasilkan 15 MW listrik. Hal ini bisa diaplikasikan di Indonesia untuk mengurangi ketergantungan kepada energi fosil yang notabene akan habis suatu saat nantinya.

Pewarta           : Nuri Riskian-Internship Humas UM