image_pdf

Malang, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA UM) telah sukses menyelenggarakan Program SAKURA (Indonesia Language and Culture Program) dari mahasiswa Universitas Saga Jepang. Program yang pertama kali diadakan ini diikuti oleh 6 peserta terdiri dari dua lekaki dan empat perempuan. Mereka belajar Bahasa Indonesia dan budaya (bermain gamelan) di BIPA UM selama dua minggu. Program ini memang waktunya pendek hanya dua minggu, karena program ini dirancang untuk mengisi waktu liburan musim panas mahasiswa Universitas Saga Jepang.

Acara penutupan yang di gelar di Laboratorium Seni Tari Fakutas Sastra pada tanggal 15/03/19. Kegiatan itu dihadiri Direktur BIPA, Dr. Gatut, M.Pd., pelatih gamelan Bapak Teguh, beserta kruw, para guru pendamping, dan para undangan. Acara penutupan ini dilaksanakan secara sederhana yakni:  sambutan Direktur BIPA, Penyerahan Sertifikat dan di tutup dengan menampilkan gamelan yang dimainkan oleh para peserta.

Direktur BIPA UM dalam sambutanya mengatakan, “pada kesempatan ini saya akan membuka dan sekaligus akan menutup acara ini. Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Bapak, Ibu pemateri dan pengasuh karawitan yang telah kerja keras selama dua minggu sampai hari ini. Sehingga kita bisa menyaksikan penampilan mahasiswa Program SAKURA dari Universitas Saga Jepang. Hal ini merupakan peristiwa luar biasa, beri tepuk tangan yang meriah”.

“Nanti jika sudah sampai di Jepang sampaikan salam saya kepada Naoko Yamada, (dosen Asian Studies Saga University), bahwa secara umum, dan secara formal program berjalan dengan lancar. Program BIPA sudah selesai per sore hari ini. Besok waktunya istirahat kalau mau jalan-jalan silahkan, dan hari minggu silahkan pulang, salamat jalan, selamat sampai tujuan,”tambahnya.

“Saya juga berpesan kepada mahasiswa Universitas Saga Jepang hal-hal yang baik disimpan dan yang kurang baik tinggalkan saja,”pesannya.

Pada akhir sambutanya Dr. Gatut berkelakar bahwa belajar Bahasa Indonesia selama dua minggu belum bisa bercakap banyak, sehingga ia menutup sambutan dengan kalimat,” Saya juga mengerti bahwa anak-anak dari Saga selama dua minggu ini masih banyak yang tidak mengerti kata-kata saya, jadi sambutan ini harus kita akhiri,” dan disambut oleh gelak tertawa para hadirin.

Hal senada juga disampaikan oleh Pelatih gamelan Bapak Teguh,” belajar Bahasa Indonesia selama dua minggu memang belum bisa berbicara banyak. Akan tetapi mahasiwa Jepang mempunyai kelebihan tekun dalam menyimak. Hal ini membuat mereka lebih mudah dalam bermain gamelan. Dalam waktu dua minggu 7 kali pertemuan saja mereka sudah bisa memainkan dua lagu gamelan tradisional.”

“Dua lagu yang sudah mereka kuasai akan ditampilkan hari ini pertama Lagu gemelan  Tradisi Banyuwangi kotenporel. Lagu ini yang menggambarkan tetang pembalajaran saat bermain gamelan bagi mahasiswa. Lagu kedua lagu yang akan dimainkan Mahasiswa Saga ini adalah Mars BIPA Universitas Negeri Malang,”tambahnya.

Mahasiswa Saga Jepang ternyata penampilan permainan gamelan tidak mengecawakan, terbukti dari alunan lagunya dan cara pemukulan gamelan sangat kompak, sehingga menghasilkan alunan suara yang harmonis, dinamis/lincah sebagai cirikas musik gamelan Banyuwangi.

Penulis: Budiharto – Humas UM