image_pdf
Disinfectan chamber dipasang di teras Graha Rektorat UM

Malang. Universitas Negeri Malang (UM) kembali berinovasi sebagai bentuk upaya pencegahan penyebaran virus di lingkungan kampus. Melalui dosen-dosen dari Jurusan Fisika dan Jurusan Teknik Elektro, UM mengembangkan disinfectan chamber. Tujuan dikembangkannya disinfectan chamber ini adalah untuk menjaga keseterilan orang yang ingin masuk ke lingkungan kampus. Selain untuk penyemprotan disinfectan, disinfectan chamber yang dikembangkan oleh dosen UM ini memiliki alat pengecek suhu tubuh yang memiliki layar dan juga dapat mengeluarkan suara.

Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan bahwasanya penyemprotan disinfectan pada manusia itu tidak aman. Menanggapi hal tersebut Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., selaku Koordinator Satgas Kewaspadaan Covid-19 dan juga ketua LP2M UM menyampaikan, “Bahwa pada dasarnya semua bahan kimia itu berbahaya. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu bahan kima jika digunakan secara tepat dapat menjadi obat.” ujarnya.

Bahan yang digunakan untuk membuat disinfectan ini, UM merujuk pada LIPI. Dimana ada 16 bahan yang direkomendasikan untuk penggunaan umum dan UM memilih etanol sebagai bahannya. “Kami menggunakan etanol 70% dan ini sama persis dengan yang digunakan pada handsanitizer. Meskipun harganya mahal, namun ini merupakan bahan yang paling aman bagi tubuh manusia.” ujar Prof. Markus.

Saat ini pemasangan disinfectan chamber baru berada di Graha Rektorat UM. Namun kedepannya Prof. Dr. Markus Diantoro berharap disinfectan chamber ini tidak hanya dibuat satu. Bupati Malang sendiri telah meminta bantuan secara resmi kepada UM untuk kesanggupan membantu membuat disinfectan chamber ini. Sehingga diharapkan upaya pencegahan tidak hanya berada di wilayah kampus melainkan seluruh wilayah Malang Raya.

Pewarta : Muhammad Zaid Al Khair – Internship Humas UM