image_pdf
Ketua Jurusan MIPA FKIP Universitas Tadulako Palu, Ir. Purnama Ningsih, S.Pd., M.Si., Ph.D,
menyerahkan Sertifikat kepada Dr. Muntholib, S.Pd., M.Si. selaku Narasumber

Palu – Dosen Kimia, FMIPA, Universtias negeri Malang (UM), Dr. Muntholib, S.Pd., M.Si., menjadi narasumber Seminar Nasional Pendidikan Kimia FKIP Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, yang dihelat di Hotel Santika Palu tanggal 25 Juli 2022. Dalam seminar “Inovasi Pembelajaran dan Riset Kimia untuk mencapai SDGs (Sustainable Development Goals) 4 (Quality Education)” tersebut, Dr. Muntholib membawakan makalah “Bagaimana Membelajarkan Keterampilan Abad ke 21?”

Seminar dibuka oleh Dekan FKIP Untad, Dr. Ir. Amiruddin Kade, S.Pd., M.Si. Dalam seminar tersebut, Dr. Muntholib mengemukakan bahwa berbagai laporan menunjukkan bahwa capaian pembelajaran kita saat ini belum menggembirakan. Merujuk laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis tahun 2019, ia mengemukakan bahwa skor rata-rata literasi sains anak-anak Indonesia adalah 396, jauh di bawah skor rata-rata literasi sains dunia sebesar 489. Laporan tersebut tidak jauh berbeda dengan berbagai laporan hasil penelitian yang dilaporan berbagai peneliti di tanah air, baik tentang literasi sains maupun berbagai keterampilan abad ke 21 seperti keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, keterampilan komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi.

Menurut Dr. Muntholib, pembelajaran yang baik tercermin dari koherensi tiga pilar pembelajaran, yakni kompetensi yang hendak dicapai, pengalaman belajar siswa, dan asesmen pembelajaran. Rumusan kompetensi lulusan pendidikan kita yang dituangkan dalam Permendikbud No. 20 tahun 2016 sudah mengakomodasi keterampilan abad ke 21 dan literasi, dalam hal ini literasi sains yang mencakup pengetahuan dan kompetensi ilmiah. Kualitas asesmen di dalam riset juga tidak perlu diragukan karena instrumen penilaian yang digunakan telah memenuhi validitas konstruk, validitas konten, validitas butir soal, dan reliabilitas instrumen. Yang masih menjadi tanda tanya adalah kualitas pengalaman belajar siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Merujuk berbagai laporan penelitian, ia menyarankan penggunaan strategi-strategi pembelajaran yang relevan seperti  Inquiry-Based Learning, Computational Thinking, Crossover Learning, Learning Through Argumentation, Context-Based Learning, dan tentu saja direct instruction serta melibatkan pendidik yang kompeten dan terlatih.

Pewarta: Humas FMIPA UM