image_pdf

Malang. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (FS) Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan workshop keperpustakaan dengan mengusung tema “Revitalisasi Bahasa Indonesia dan Budaya Kesopanan sebagai Intensifikasi Mutu Generasi Muda Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Perpustakaan dan Aula Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pada Minggu (14/11/2021).

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang menjadi kewajiban bagi setiap ormawa (organisasi mahasiswa) yang ada di lingkungan FS, dengan rangkaian acara pelatihan dan pengelolaan perpustakaan yang dilaksanakan pada tanggal 1, 4 dan 7 November 2021. Alasan yang menjadikan dasar dilaksanakan program ini adalah karena pentingnya perpustakaan bagi warga desa namun dalam pengadaannya masih minim sekali. 

Mokhamad Rukhan yang merupakan salah satu pemateri dalam workshop ini menyampaikan bahwa manfaat dari perpustakaan desa sangat banyak. “Manfaat perpustakaan desa diantaranya adalah menyediakan bahan bacaan untuk sumber pengetahuan imum lara masyarakat di pedesaan dan memberikan kesempatan bagi masyatakat dan perangkat desa untuk mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi. Selain itu perpustakaan desa juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai pusat edukasi, pusat informasi, pusat riset atau penelitian dan tempat pelatihan,” ungkapnya.

“Standar perpustakaan desa sudah diatur dalam SNP 005:2011, termasuk koleksi, jenis lain, surat kabar, majalah, koleksi audio, usia koleksi, jenis koleksi, proses pengolahan, jam buka perpustakaan, layanan, sarana layanan, pelestarian, ruangan, tenaga, insentif, tata kerja, anggaran, pengorganisasian, kerjasama, pembentukan,” imbuhnya.

Pemateri kedua dalam acara workshop tersebut adalah Rika Setyowati, A.Md., dilanjut dengan pemaparan pemateri ketiga oleh Tri Yuliana yang menyampaikan materi tentang Praktik Dasar-Dasar Manajemen Perpustakaan. “Identitas buku itu tidak boleh menutupi informasi buku termasuk ilustrasi pada buku. Kode buku/klasifikasi biasanya diletakkan di punggung buku, menggunakan DDC. Pelabelan adalah identitas perpustakaan, DDC, nama lengarang, judul buku, pelabelan berjarak 3 cm dari bawah,” ucapnya.

“Perpustakaan ini kita buat sebagai upaya peningkatan minat baca agar generasi muda senantiasa melestarikan dan menggunakan bahasa indonesia melalui gerakan membaca. Pelatihan keperpustakaan kami berikan sebagai upaya keberlanjutan pengelolaan perpustakaan desa. Sedangkan untuk budaya kesopanan ditunjukkan melalui sikap bahu membahu pada saat pengelolaan perpustakaan (gotong royong),” pungkasnya.

Pewarta : Luthfi Maulida Rochmah – Internship Humas UM.