image_pdf

Malang. Rangkaian acara Indonesia Green Growth and Sustainability 2019 pada hari kedua, Kamis (27/06) berlangsung cukup padat. Kegiatan yang baru pertama kali digelar di Indonesia tersebut cukup menarik minat masyarakat untuk mengikuti berbagai rangkaian acara. Pameran bertemakan “Green Products and Services for National Economic Competitiveness” yang digelar di Graha Cakarawala Universitas Negeri Malang (UM) tersebut tak hanya mengajak khalayak umum untuk berkeliling stand, tetapi juga menghadirkan pembicara berkompeten dalam forum diskusi, seminar, dan talkshow. 

Sejalan dengan tujuan Indonesia dalam menghadapi revolusi industry 4.0 yang mengarah pada pembangunan berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan hidup juga merupakan salah satu faktor agar masyarakat mendapat penghidupan layak menjadi maksud diadakannya kegiatan ini.

Seperti halnya seminar pada pukul 09.00-10.30 WIB, CEO Indonesia Medika, dr. Gamal Albinsaid menerangkan bahwa kini ia tengah terfokus pada tiga inovasi di bidang layanan kesehatan masyarakat dengan memperhatikan masalah lingkungan. Dua permasalahan yang menjadi momok negeri ini pun dapat terselesaikan sekaligus.

Inovasi pertama yang Gamal beberkan ialah “Garbage Medical Care”. Dimana sampah menjadi sumber utama untuk asuransi pembiayaan yang memungkinkan masyarakat kurang mampu mendapat layanan kesehatan secara layak. Gambaran aktivitas yang dilakukan ialah masyarakat diperkenankan untuk membayar sampah seharga Rp 10.000 seperti lima kilogram kerdus, sepuluh kilogram plastik, dan lain sebagainya.

Kedua, inovasi digital pun digunakan untuk mempercepat pencapaian visi. Seperti membuat sebuah platform siapapeduli.id yang nantinya akan diadakan penggalangan dana secara digital untuk membantu pasien yang sedang membutuhkan biaya pengobatan.

Menggunakan teknologi untuk menyelesaikan sebuah permasalahan merupakan sebuah inovasi yang baik dan efisien. Menciptakan sebuah aplikasi INMED menjadi langkah inovasi ketiga oleh Gamal. Aplikasi yang saat ini sudah dapat diakses melalui playstore tersebut bertujuan untuk mendigitalisasi berbagai sektor di bidang kesehatan seperti MedVisit, MedTalk, dan lain-lain, sehingga mempermudah pasien memperoleh akses pelayanan kesehatan.

“Alasan mengapa kami hanya terfokus pada tiga inovasi bukanlah karena kami tidak ingin membuat suatu inovasi baru. Tetapi karena kami ingin memastikan inovasi ini mengakar, termodifikasi, berdampak, terstruktur dan tumbuh lebih cepat.” Jelas Gamal.

Lebih lanjut, kiprahnya di dunia kesehatan berbasis pelayanan yang juga memperhatikan lingkungan hidup ini mendapat perhatian dari penjuru dunia seperti Pangeran Charles dan John Karry.

Berbeda dengan Asep Nurdin, CEO Yayasan Filantra terfokus untuk bekerjasama dengan mitra-mitra perusahaan yang memiliki program dalam menjaga lingkungan hidup. Seperti campaign “Selamatkan Bumi dari Sampah Plastik” yang sejalan dengan tujuan SDGs Indonesia tahun 2030 dalam menghadapi revolusi industry 4.0.

Pewarta           : Salsabila Esya Kusdianti – Internship Humas UM