image_pdf

Malang. Musik bernafaskan Islam di Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi terdengar di Indonesia. Mulai dari tembang yang dipopulerkan Walisongo hingga yang terhits akhir-akhir ini dengan lagunya Nissa Sabyan pun menjadi alat dakwah yang bisa membawa pada spiritual religi keislaman di tengah-tengan masyarakat. Semua hal di atas seperti terangkum lengkap dalam buku terbaru Prof. Anne K. Rasmussen yang baru di lanching kemarin (8/7) di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM).

Buku berjudul Merayakan Islam dengan Irama pun menggambarkan bagaimana atmosfir keagamaan cukup menyenangkan dengan dibalut dendang irama. Sang profesor dari Amerika Serikat itu pun mengaku cukup takjub dengan kebudayaan Indonesia yang cara dakwahnya berbeda dengan negara-negara lain seperti di timur tengah. “Cara ini cukup penting untuk panggung dunia bagi Indonesia,” ujar Anne dalam kegiatan sore itu.

Anne menerangkan dalam bukunya pun menjelaskan bagaimana masyarakat Indonesia mengekspresikan diri lewat musik dan kebudayaan. Terlebih mencampurkan antara pertunjukan Arab dengan Indonesia dalam spiritual. Tidak hanya itu, yang menbedakan dari negara-negara islam lainnya adalah peran perempuan di dalam kebudayaan Islam di Nusantara itu sendiri. “Pengaruh perempuan sangat besar dalam hal ini. Terlebih dalam Tilawatil Quran yang berperan penting dalam memajukan kebudayaan Indonesia,” ungkap etnomusikolog ini.

Dalam kegiatan sore itu, Prof. Djoko Saryono sebagai pembedah pun cukup apresiasi atas terbitnya buku berjudul Merayakan Islam dengan Irama itu. Terlebih Djoko mengaanggap judul buku itu menunjukkan bahwa agama Islam sangat menyenangkan dan memiliki makna yang dalam yaitu beragama dengan riang gembira hingga penuh suka cita. “Seperti disadarkan bahwa agama bukanlah seperti sorot mata yang nyalang bahkan bukan saling menyalahkan apalagi membenci,” ujar guru besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Dalam buku ini menurut Djoko, Islam sangat luas tanpa ada sekat-sekat. Terlebih dengan menghadirkan irama Islam menunjukkan bahwa agama tidak hanya pada tingkat doktrin saja, tapi lebih dalam yaitu pada aktualisasi budayanya. Baginya hal ini sangatlah membahagiakannya, karena menyampaikan Islam tanpa harus berteriak-teriak di jalan atau lewat media sosial. “Buku ini seperti membendung budaya keislaman yang sangat kaku terlebih dengan musik melenturkan kekakuan itu,” ungkap profesor yang baru saja meluncurkan buku terbarunya berjudul Literasi: Episentrun Kemajuan Kebudayaan dan Peradaban.

Dalam kesempatan ini budayawan KH. Agus Sunoto juga menyoroti ada kaitannya musik dengan sejarah datangnya Islam itu sendiri di Nusantara. Dia menerangkan bahwa sejak tahun 674 Masehi atau pada masa Khalifah Umaiyah saudagar dari timur tengah sudah datang ke Nusantara untuk melakukan dakwah. Namun ratusan tahun setelah itu tidak ada data yang menjelaskan bahwa Islam dianut di Nusantara. “Sampai tahun 1450-an ketika Sunan Ampel datang dengan santri-santrinya ini lah Islam tercatat baru dianut di Nusantara,” ujar Kiai yang juga sebagai ketua Lesbumi PBNU ini.

Dengan cara dakwah yang dilakukan Sunan Ampel inilah terlihat dalam tempo waktu 40 tahun mereka bisa mengislamkan Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Agus pun menerangkan yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan para santrinya yaitu melalui pendekatan budaya terlebih melalui seni irama itu. Seni yang dibawa oleh para seniman yang disebut Walisongo itu pun memperkaya kebudayaan Nusantara itu sendiri. Dengan cara ini lebih menyentuh masyarakat. Tak hanya melalui tembang bahkan acara ritual dzikir pun juga lewat irama. “Sehingga seni tidak bisa dilepaskan peranannya di Nusantara dalam mengislamkan masyarakatnya,” tegasnya.

Nama          : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa  : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)