image_pdf

Malang. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) baru saja menyelesaikan satu program kerja, yaitu Kejuaraan Sejarah Tingkat Nasional 2019. Kegiatan yang berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM pada Hari Minggu (18/08) merupakan babak semifinal dan final. Tema dalam Kejuaraan Nasional Sejarah tahun ini mengambil tema “Penguatan Sikap Patriotisme pada Generasi Z”. Juara baru di Kejuaraan Sejarah Nasional 2019 ini diraih oleh Devina Ocsanda dan Irwana Eka Wrestiawati dari SMAN 1 Kedungwaru, Juara 2 diraih oleh Mikail Muhammad dan Jaafika Yahya dari MAN 2 Ponorogo dan Juara 3 diraih oleh Dimas Bintang Aji dan Marwah Salsabila Sakti dari SMAN 5 Surabaya serta terdapat Harapan I dan Harapan II.

Kejuaraan Sejarah Tingkat Nasional 2019 ini, dihadiri oleh Wakil Dekan III FIS UM yaitu Dr. I Nyoman Ruja, S.U untuk memberikan sambutan dan pembukaan secara resmi kegiatan dengan pemukulan gong secara simbolis. Selain peserta yang mengikuti lomba, guru pendamping yang mendampingi peserta juga mengikuti workshop yang dilaksanakan di lantai 5 FIS-UM untuk mendapatkan materi dari dosen sejarah, salah satunya yaitu Ibu Ulfatun Nafi’ah, M.Pd.

Zulfi Nur Azizi selaku ketua pelaksana Kejuaraan Sejarah Nasional 2019 menjelaskan mengenai kegiatan ini.

“Untuk Kejuaraan Sejarah Nasional ODISEA 2019 ini diikuti oleh 351 tim yang setara dengan 702 peserta, tema yang diangkat adalah tentang penguatan sikap patriotisme pada generasi Z, generasi yang dikenal instan oleh masyarakat mari kita rubah pernyataan tersebut menjadi generasi yang kritis serta rela berjuang. Selain itu, bahwa babak semifinal ini di ikuti oleh 72 tim dari berbagai rayon daerah dan akan di perkecil lagi menjadi 5 tim yang akan melangkah ke babak final.

Juara II Kejuaraan Sejarah Nasional 2019, Mikail Muhammad dari MAN 2 Ponorogo menceritakan kebahagiaan mendapatkan Juara II di ODISEA 2019 ini.

“Sangat bahagia sekali dan bangga dengan hasil yang saya raih meskipun masih di posisi ke-2, untuk persiapan sendiri mulai dari belajar mandiri, minta bimbingan guru sejarah. Tapi intinya sangat bahagia bisa membawa thropy ini unntuk dibawa pulang.

Lebih lanjut Mikail menjelaskan bahwa kedepannya semoga lebih baik dan tetap bangga menjadi sejarah.

Pewarta : Riki Pratama