image_pdf

Malang. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) mengadakan seminar ke-2 di tahun 2019 dengan tema “Kebhinekaan pada Masa Prasejarah“. Seminar kali ini mengundang Prof. Dr. Harry Widianto, DEA selaku ahli Arkeologi & Staf Balai Arkeologi D. I. Yogyakarta dan Dr. Blasius Suprapta, M.Hum selaku Dosen Jurusan Sejarah & Kepala Museum Universitas Negeri Malang (UM). Seminar ini dilaksanakan di Aula Ki Hajar Dewantara FIS UM pada Kamis (21-02-2019), dimulai pukul 08.15 dan selesai pukul 11.45. Seminar kali ini dihadiri sekurangnya 350 peserta dari Mahasiswa Jurusan Sejarah mulai dari angkatan 2015 sampai angkatan 2018, mahasiwa jurusan lain dan umum.

Acara ini dimulai oleh Master Of Ceremony (MC) dan di buka oleh Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd selaku Dekan FIS UM. Acara selanjutnya adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan tiga stanza, dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata, sesi foto bersama pemateri dan dosen Jurusan Sejarah. Sebelum memasuki inti dari seminar tersebut, sesi doa pun dilakukan dengan melanjutkan penampilan 2 penari yang membawakan Tarian Sunda.

Moderator pada seminar kali ini adalah Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum selaku Dosen Sejarah UM. Pemateri pertama membawa materi “Kebhinekaan Ragawi Selama Kala Plestosen Holosen di Indonesia: Penguatan Jati Diri Bangsa” oleh Prof. Dr. Harry Widianto, DEA. Pemateri kedua adalah Dr. Blasius Suprapta, M.Hum dengan materi “Paradigma Baru Pengajaran dan Historiografi Prasejarah Indonesia Dalam Bingkai Kebhinekaan“.

Ketua Jurusan Sejarah Dr. Ari Sapto, M.Hum memaparkan mengenai latar belakang pemilihan tema pada seminar kali ini, bahwa adanya penemuan-penemuan baru mengenai prasejarah dan perlu adanya penjernihan khususnya tentang migrasi bangsa Indonesia pada masa itu, dibuku-buku sejarah sekarang masih mengunakan Proro Melayu dan Deutro Melayu padahal di temuan terbaru tidak seperti itu, makanya seminar kali ini menghadirkan tokoh yang ahli dalam bidang tersebut.

“Selain itu juga menggunakan kata Kebhinekaan, mengapa? Orang sekarang mudah dihadapkan dengan realitas politik, yang hanya 5 tahunan saja menjadi marah-marahan, menjadi berbeda, hal ini terlihat kurangnya menyadari bahwa kita ini adalah satu sejak zaman dahulu jika dilhat dari percampuran gen dan ras serta dilihat dari geopolitiknya” ujarnya.

Pewarta           : Riki Pratama – Internship Humas UM