image_pdf

Dalam rangka penanggulangan bencana alam, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) selenggarakan Kuliah Tamu dengan tema, “Pendidikan Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Alam” secara luring pada Kamis (1/9/22) bertempat di aula D3 FIP. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa S1 hingga S3 dari berbagai jurusan di FIP UM dan dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan sekaligus sambutan oleh Dekan FIP, Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dalam kegiatan akademik. “Sebagai calon guru, kita harus dituntut untuk memahami cara penanggulangan bencana, baik bencana dari alam maupun manusia. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa dapat menambah pengalaman yang lebih kreatif dalam mengembangkan riset-riset pendidikan yang nantinya mereka bisa menulis artikel tentang lingkungan hidup,” ujara Dekan FIP.

Agenda selanjutnya adalah melaksanakan MoU dengan Universitas Kitakyushu dan disambung dengan pemberian materi oleh Fumitoshi Murae sensei dari Universitas Kitakyushu, Jepang. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa ini merupakan pengalaman pertama beliau ketika mengunjungi Indonesia dan UM. Melalui kegiatan ini diharapkan nantinya mahasiswa dapat  mengurangi kerugian dan korban akibat bencana alam melalui sekolah.

Terdapat hal unik dalam perbedaan antara warga Jepang dan Indonesia, seringkali sebelum kegiatan beraktivitas mereka selalu melihat ramalan cuaca melalui aplikasi di ponsel atau televisi karena perubahan cuaca mudah sekali berubah. “Jepang dari dulu mengalami bencana alam yang menelan korban jiwa. terdapat perbedaan antara bencana alam seperti udara yang diantaranya angin puting beliung, hujan, dan badai serta darat yang meliputi tsunami, longsor, gempa, dan erupsi. Berbagai peringatan tentang bencana alam lainnya yang berpotensi berat juga langsung diberitakan secara darurat, sehingga mereka bisa langsung mengungsi menuju tempat yang telah disediakan seperti aula sekolah yang sangat luas,” jelas Fumitoshi Murae.

Antisipasi dalam bencana alam telah disiapkan oleh pemerintah melalui sekolah beserta tingkatannya. Pemberian materi tersebut termasuk dalam kurikulum dan terselip pada setiap mata pembelajaran. Pemberian materi dalam 1 tahun pembelajaran setidaknya harus ada 3 kali dalam simulasi bencana alam, beberapa diberi latihan seperti menghadapi kejahatan, kebakaran, dan bencana alam.

Tidak semua sekolah mendapat materi yang sama dikarenakan lokasi sekolah yang bertempat di lokasi yang berbeda. Pelatihan tersebut juga memberikan bagaimana siswa juga tanggap darurat bencana terhadap sesama melalui komunikasi dan kerjasama siswa sekolah.

Pewarta: Ibrahim Naufal Daffa’ – Internship Humas UM