image_pdf
Pengukuhan Guru Besar; Prof. Drs. H. Burhanuddin, M.Ed., Ph.D., Prof. Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd, Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, Prof. Dr. I Komang Astina, M.S., dan Prof. Dr. Ponimin, M.Hum. di Graha Cakrawala UM

Universitas Negeri Malang (UM) terus meningkatkan prestasi dan kualitas akademik dengan kembali mengukuhkan 5 Guru Besar. Pengukuhan tersebut dilaksanakan secara luring terbatas di Graha Cakrawala pada Kamis (12/08). Adapun kelima Guru Besar yang dikukuhkan, yaitu Prof. Drs. H. Burhanuddin, M.Ed., Ph.D., Prof. Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd, Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, Prof. Dr. I Komang Astina, M.S., dan Prof. Dr. Ponimin, M.Hum. Acara tersebut dihadiri salah antara lain Ketua DPRD Kota Malang Bapak I Made Rian Diana Kartika,  Hakim Pengadilan Negeri Malang Bapak Mohamad Indarto, S.H., M.Hum., dan para undangan lainnya.

Rektor UM Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., dalam sambutannya bersyukur dan berterima kasih kepada para hadirin dan Guru Besar yang dikukuhkan.

“Pengukuhan Guru Besar ini bukan semata seremoni, tetapi betul-betul bermakna bagi UM untuk bisa merealisasikan menjadi unggul dan rujukan (Guru) Asia dan dikenal dunia. Guru adalah singkatan dari Unggul dan Rujukan”.ujarnya.

Rektor juga menekankan tugas Guru Besar dan profesor yang tidak mudah dan kompleks. Fasilitasi untuk optimalisasi potensi mahasiswa memiliki dimensi yang kompleks melalui beragam kegiatan akademik dan non-akademik, salah satunya pelibatan mahasiswa dalam aktivitas dosen dan para profesor untuk penelitian. Mahasiswa dituntut mengalami banyak hal terkait capaian akademik di tahun pertama dan terjun ke dalam berbagai pengalaman riset praktikal sehingga mahasiswa benar-benar matang penguasaan kompetensi. 

Ketua DPRD Kota Malang Bapak I Made Rian Diana Kartika (kanan) menghadiri acara pengukuhan guru besar UM, di Graha Cakrawala UM

Semua kegiatan itu didampingi para profesor mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kinerja, bahkan selalu di bawah kontrol kualitas yang standar sehingga menghasilkan luaran yang juga berkualitas. Bentuk luaran tidak hanya bentuk artikel pada jurnal internasional, tetapi juga inovasi yang tumbuh dan berkembang sangat cepat. Kemanfaatan hasil kerja riset langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Dampak akhir adalah lulusan memiliki keberterimaan yang sangat tinggi dalam dunia industri, usaha, dan kerja. Lebih dari itu, universitas tersebut menjadi incaran masyarakat internasional dengan anak muda berkualitas diterima di universitas itu dan industri dunia banyak yang ingin bermitra dengan universitas serta organisasi apapun dimanapun menjadikannya sebagai rujukan. Begitulah hakikat internasionalisasi yang sedang di tempuh UM” lanjut Rektor.

Para Guru Besar yang dikukuhkan mendapat kesempatan secara bergantian untuk menyampaikan pidato pencapaian dan penemuan masing-masing, serta ucapan terima kasih terhadap pihak-pihak yang membersamai dalam proses pencapaian tertinggi pangkat akademik tersebut.

Prof. Drs. H. Burhanuddin, M.Ed. Ph.D., menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dalam disiplin ilmu manajemen pendidikan dengan judul topik Mengembangkan Budaya Organisasi di dalam Memimpin Masa Depan Universitas. 

“Manajemen organisasi universitas telah menjadi fokus perhatian masyarakat dunia, khususnya para orang tua untuk mengirimkan anak-anak mereka ke universitas sebagai human investmen. Hal tersebut agar menjamin anak-anak saat menjadi lulusan memiliki individual capacity dan dapat berkontribusi secara signifikan pada bangsa, masyarakat, baik kepentingan lokal maupun global. Meskipun demikian, kinerja manajemen memiliki masalah yaitu menunjukkan progress yang lambat di benua ini termasuk Indonesia. Dalam kelompok 500 University Ranking level dunia maupun 200 University Top Asia 2022 belum ada satu pun universitas kita yang terdaftar. Peringkat tersebut dikuasai China, Taiwan, dan Jepang. Oleh karena itu, hal tersebut merupakan daya tarik saya mengkaji manajemen pendidikan tinggi Indonesia yang mungkin bisa berkontribusi dalam menemukan strategi tepat untuk mengembangkan universitas ke depan khususnya di tanah air. Kesimpulan penelitian saya bahwa budaya organisasi maupun variabel prediktor lainnya ditemukan berpengaruh signifikan terhadap kinerja kepemimpinan, kualitas layanan administrasi yang diterima mahasiswa, dan budaya akademik yang berkembang di kampus” jelas Prof. Burhan. 

Prof. Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd, menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dengan judul Mencetak SDM Terampil dan Berkarakter melalui Implementasi Model IPjBL pada Pendidikan Vokasi di Era Industri 4.0.

“SDM terampil adalah menguasai kognitif dan teknikal, serta memiliki karakter pengelolaan diri dan kebekerjaan untuk menunjang keberhasilan kerja di era industri 4.0. Pendidikan vokasi di era industri 4.0 ditinjau dari tantangannya harus menghadapi perubahan kurikulum sesuai kebutuhan dan perubahan pekerjaan di industri 4.0. Ditinjau dari segi paradigma, era industri 4.0 perlu memiliki pemikiran terbuka dan responsif terhadap perubahan, pergerakan menuju kurikulum berbasis proyek, serta pengembangan keterampilan interdisipliner. PjBL dalam Revitalisasi SMK berpusat pada siswa, berkonteks dunia nyata, memiliki masalah yang otentik dan menarik, serta mengembangkan soft skill. Implementasi Model PjBL di SMK memiliki 4 model, yaitu Pra-PjBL (tugas latihan), PjBL dengan proyek sederhana, PjBL dengan proyek kompleks, dan PjBL dengan proyek unggulan. Model ketiga dan keempat tergolong IPjBL dengan sintaks yang kompleks, yaitu searching, solving, designing, producing, evaluating, dan sharing dengan berbagai modifikasi dan pengembangannya” jelas Prof. Dwi.

Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dengan judul Penerapan Asesmen Autentik dalam Pembelajran Ilmu Eksak dan Ilmu Sosial: Studi Kasus di Universitas Negeri Malang.

“Permasalahan utama dalam penelitian adalah asesmen autentik dianggap yang paling efektif. Asesmen Tradisional berorientasi pada produk, sedangkan asesmen autentik beorientasi pada proses. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian tentang asesmen autentik pada ilmu eksak dan ilmu sosial untuk menggali fakta pelaksanaan asesmen pada kedua bidang tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hampir seluruh aspek asesmen autentik pada ilmu eksak dan ilmu sosial memiliki tidak perbedaan yang signifikan. Terdapat perbedaan bentuk asesmen dalam penugasan, serta tes-tes terukur lebih banyak digunakan pada ilmu eksak” jelas Prof. Eddy. 

Prof. Dr. I Komang Astina, M.S., menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dalam bidang Geografi Sosial dengan judul Perspektif Geografi dalam Kajian Kualitas Hidup Lansia.

“Lansia merupakan penduduk berumur 60 tahun ke atas. Penuaan penduduk merujuk pada pertambahan jumlah penduduk dan prosentase umur 60 tahun ke atas, di sisi lain terdapat penurunan jumlah penduduk 0-4 tahun di suatu wilayah. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pada struktur piramida penduduk dan berpengaruh pada kualitas hidup lansia. Pendekatan kualitas hidup lansia dengan objektif maupun subjektif. Berdasarkan penelitian saya, salah satu variabel yang menentukan adala rekreasi” jelas Prof. Komang.

Prof. Dr. Ponimin, M.Hum, menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dalam bidang Penciptaan dan Pengkajian Seni dengan judul Penciptaan Seni Berbasis Potensi Lokal sebagai Penguat Eksistensi Artistk Kenusantaraan Era Global.

“Nusantara memiliki berbagai budaya atraktif dan artefak. Budaya tersebut memiliki keunikan tampilan bentuk, penyajian, teknik pembuatan, dan nilai filosofi. Hasil kreatif penciptaan seni yang digali dari budaya lokal nusantara sebagai penguat eksistensi seni rupa (seni kriya melalui kerja kreatif cipta seni) di tingkat nasional maupun global. Kesimpulan dari program tersebut, penciptaan seni adalah proses kreatif dari menggali sumber ide sampai melakukan gelar karya” jelas Prof. Ponimin. 

Nahdiatul Affandiah -Internship Humas UM