image_pdf

Malang. Di akhir liburan semester ini, beberapa mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dari luar kota pun banyak yang telah kembali ke Malang. Sembari menunggu hari pertama masuk kuliah semester genap, mereka pun  terlihat mengisi liburan mereka mengunjungi Museum UM. Dengan melihat peninggalan-peninggalan penting terkait sejarah UM dan penemuan-penemuan pembelajaran di Museum itu pun membuat semangat menyongsong awal perkuliahan pun menjadi meningkat.

Hal ini seperti yang dirasakan A. Mustofa dan kawan-kawannya saat tadi siang (16/1) mengunjungi museum yang berada di selatan gedung rektorat ini. Menurutnya dengan melihat perjuangan para pendiri UM mampu memompa semangat untuk melanjutkan perjuangan itu. Sehingga hal ini cukup baik baginya untuk mengawali perkulihan yang akan dimulai Senin pekan depan. “Jalan-jalan ke museum UM selain refreshing juga sebagai pemanasan masuk kuliah,” ungkap mahasiswa Pascasarjana ini.

Menurutnya banyak informasi yang cukup menarik tersimpan dalam museum UM. Terutama bisa mengetahui awal berdirinya UM hingga informasi terkait tokoh-tokoh dunia pendidikan nasional yang ternyata banyak lahir di UM ini. Salah satu tokoh yang berkesan baginya adalah adanya informasi tentang Prof. Dr. Supartinah Pakasi guru besar Ilmu Pendidikan UM yang mencetuskan metode belajar membaca dan menulis i-in dan a-an yang cukup legendaris itu. Menurutnya menarik  karena metode ini umum dilakukan di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya ketika dia masih SD dulu. “Setelah datang ke museum ini baru tahu dan takjub. O…, jadi  yang menemukan metode i-in a-an itu beliau (Prof. Supartinah, Red),” terang mahasiswa asal Lumajang ini.

Lain lagi dengan Mustofa, Firdausya mahasiswa Bahasa Indonesia pun yang datang ke museum itu cukup takjub melihat beberapa penemuan karya dari Prof. Suwojo Wojowasito yang dipajang di museum UM ini. Terlebih Prof. Suwojo yang merupakan guru besar bahasa ini pun banyak menelurkan kamus-kamus poluler maupun umum Bahasa Inggris-Indonesia yang kerap dipakai masyarakat Indonesia di tahun 1980-an. “Kamus Kawi-Indonesia karya Prof. Suwojo pun juga ditampilkan di museum ini. Semakin takjub dengan beliau,” ujarnya.

Melalui karya-karya maestro di bidang ilmu pengetahuan di Museum UM ini, Firda menerangkan bahwa bisa menjadi pelecut semangat agar ikut berkaya seperti para pendahulu-pendahulu UM. Terlebih lecutan ini pun menjadi dampak positif baginya ketika hendak memasuki dunia perkuliahan semester genap nanti. “Tambah semangat jadinya setelah lihat karya-karya guru besar UM yang di tampilkan itu,” tegas Firda.

Berbeda dengan Firda, Septian Adi pengunjung lain lebih tertarik pada barang-barang bersejarah yang dipamerkan di museum UM ini. Barang-barang jadul itu pun mulai dari alat pembelajaran seperti mikrospop, kamera, hingga mesin ketik yang dipakai para Rektor UM dulu. Namun yang paling menarik baginya adalah cangkir dan tatakan yang digunakan Prof. Dr. Suparno yang digunakan untuk ngopi semasa menjabat rektor tahun 2006-2014. “Cukup menarik karena memang Pak Parno dikenal pecinta kopi dan pagi hari selalu minum kopi. Jadi teringat saat diajar beliau, jam pertama (07.00, Red) pasti ada kopi di meja beliau,” ungkap alumni S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah UM ini.

Pewarta: Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)