image_pdf
Sejarawan kondang asal Jakarta  JJ. Rizal

Malang. Dalam merayakan 95 tahun tokoh Sitor Situmorang, kemarin malam (4/11) diselenggarakan diskusi buku di Kafe Pustaka Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM). Dengan menghadirkan sejarawan kondang asal Jakarta  JJ. Rizal, diskusi berjalan seru ketika membicarakan sebuah buku berjudul Mitos dari Lebak karya Rob Nieuwenhuys. Buku yang diterjemahkan Sitor Situmorang ini semakin menghangatkan suasana malam karena menguak sisi lain Douwes Dekker alias Multatuli dalam mahakaryanya berjudul Max Havelar.

Dalam sesi diskusi tersebut, JJ Rizal menerangkan bahwa buku Mitos dari Lebak dipandang sebagai kritik atas romantisme sejarah terhadap baik Dekker sendiri maupun karya besarnya Max Havelar. Alih-alih revolusioner, tindakan di Lebak Bantennya ketika menjadi asisten residen ternyata sebuah usaha pencaplokan politik. “Dalam penerjemahan buku berjudul Max Havelar sendiri juga banyak kepentingan-kepentingan yang masuk,” ungkap pendiri Komunitas Bambu ini.

Dia menceritakan bahwa penerjemahan Max Havelar yang dilakukan HB. Jassin sekitar tahun 1970-an sarat akan muatan politik. Ini bisa terlihat dari tahun-tahun itu ketika negara membuka peluang investasi sebesar-besarnya. Pemerintah Belanda yang ingin menjalin hubungan baik lagi dengan pemerintah Indonesia pun seolah-olah menghadirkan sosok Max Havelar alias Dekker adalah sosok pejabat Belanda yang memihak kaum pribumi. “Melalui buku Max Havelar, ketika itu Belanda ingin ajak kerjasama,” terang penulis yang banyak menerbitka buku-buku sejarah ini.

Namun pasca buku itu terbit dan dibaca masyarakat Indonesia, beberapa tahun kemudian Sitor Situmorang menemukan arsip karya Rob Nieuwenhuys berbahasa Belanda berjudul De Mythe van Lebak yang mengatakan hal lain soal Max Havelar alias Dekker terlebih ketika dia menjabat asisten residen itu. Kemudian Sitor pun menerjemahkan karya Rob Niewenhuys di tahun 70-an dengan judul Hikayat Lebak dan kini di tahun 2019 terbit lagi dengan judul Mitos dari Lebak mengacu judul buku aslinya. “Karya Rob Nieuwenhuys ini adalah alternatif dalam memaknai dominasi Max Havelar yang masif berkembang,” terang JJ Rizal.

Tidak hanya menghadirkan JJ Rizal, dalam diskusi malam itu juga dihadiri Anton Novenanto Sosiolog dari Universitas Brawijaya Malang. Dalam pembacaannya terhadap buku Mitos dari Lebak, kesan pertamanya adalah membuatnya ingin kembali membaca Max Havelar. Hal itu dilakukan untuk kembali membandingkan antarnya buku Max Havelar karya Multatuli atau Douwes Dekker itu dengan Mitos dari Lebak karya Rob Nieuwenhuys. “Kesan pertama setelah baca, saya malah ingin kembali membaca Max Havelar,” ungkapnya.

Anton menjelaskan bahwa memang buku Mitos dari Lebak ini penting untuk dibaca karena buku ini melawan narasi mainstrem tentang kemegahan Max Havelar. Terlebih dalam hal ini akan melatih untuk konsisten dalam berfikir. Selain itu juga bisa membandingkan pemikiran Max Havelar ditulis oleh orang besar dengan Mitos dari Lebak yang ditulis oleh orang biasa. “Silakan membacanya, cukup menarik buku ini,” tegasnya.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)