image_pdf

Malang. Teater Hampa Indonesia malam lalu (15/10) sukses melangsungkan pementasan produksinya. Digelar di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM), teater yang merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di UM ini pun mampu menyedot perhatian penontonnya. Terlebih pementasan yang memerankan naskah berjudul Kudnat ini pun selain mengangkat isu perebutan kekuasaan juga menampilkan sisi etik dengan dibalut kesenian bantengan.

Pementasan yang disutradarai M. Zainul Alamsyah malam itu berkisah tentang banyaknya sapi-sapi warga yang mati setiap malamnya. Warga menduga kematian sapi-sapi itu disebabkan oleh aktifitas ritual mantan kepala desa yang memiliki kelompok kesenian bantengan. Isu itu semakin berhembus hingga warga berspekulasi bahwa kelompok itu membunuh sapi-sapi warga untuk meningkatkan kekuatan kanuragan yang menurut mereka itu syirik dan tidak pantas dilakukan kaum beriman. “Akibatnya, dulu sang mantan kepala desa cukup disegani dan dipercaya setiap omongannya kini dibenci oleh para warga. Hingga ada yang ingin membunuh dia dan keluarganya karena diduga membunuh sapi-sapi warga,” ujar Zainul.

Para aktor memerankan naskah Kudnat yang diselenggarakan teater Hampa

Kasak-kusuk warga pun akhirnya mulai menemukan titik terangnya, ketika hansip desa menemukan botol berisi potas di sekitar kandang sapi warga yang diduga digunakan untuk membunuh sapi-sapi tersebut. Sehingga dugaan ritual bantengan itupun sedikit mereda, namun yang menjadi kasak-kusuk lagi adalah motif dari pembunuhan sapi-sapi warga tersebut. Hingga akhirnya tersiar kabar bahwa cucu sang kepala desa yang kini menjabat tiba-tiba tewas akibat tidak sengaja menenggak potas yang ada di kamar kakeknya karena di kira minuman. “Di sinilah warga tahu siapa pelaku sebenarnya dari tewasnya sapi-sapi warga,” ungkap sang sutradara.

Diwawancarai setelah pementasan berakhir, Zainul menerangkan bahwa Kudnat sendiri  berasal dari boso walikan khas Malang yang berarti Tanduk. Tanduk menjadi simbol kekuatan sang pemimpin layaknya banteng yang ditakuti para hewan lain karena tanduknya. Sehingga tanduk diibaratkan pengaruh pemimpin kepada warganya. Semakin besar pengaruh sang pemimpin  semakin dia memiliki tanduk. “Kami gambarkan sang Kades ini gila pengaruh dan kekuasaan, hingga cara-cara seperti fitnah pun dilakukan,” ujar pria yang merupakan mahasiswa Sastra Inggris UM ini.

Bantengan dipentaskan dalam drama Teater Hampa

Berbagai komentar dilayangkan oleh para penonton, salah satunya diutarakan Septian Adi yang cukup apresiatif terkait pementasan Teater Hampa yang diselenggarakan malam itu. Terlebih menurutnya isu yang diambil sangat menggambarkan masyarakat akhir-akhir ini yang riuh menanggapi agenda pilkades yang hendak dilakukan. “Seperti di Mojokerto dan Kediri kan ini juga mau ada agenda Pilkades. Setidaknya pementasan ini bisa menjadi refleksi sekaligus kritikan,” ujar Adi.

Pria yang kini berprofesi sebagai guru ini mengaku pementasan ini cukup memberikan nilai edukasi, terlebih mengasah daya kritik para pelajar. Sehingga melihat para penontonnya yang kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar di Kota Malang ini Adi cukup optimis bisa diterima dengan baik dan akan menjadi pembelajaran mereka ketika dewasa ketika terjun di masyarakat kelak. “Banyak unsur edukasi dalam pementasan ini, sehingga cocok untuk ditonton semua kalangan,” tegas mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia ini.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)