image_pdf

Malang. Memajukan kebudayaan Nusantara tidaklah mudah. Perlu kesadaran tinggi masyarakat dan pemerintah di dalamnya untuk mengembangkannya. Namun akhir-akhir ini kesadaran maupun kebanggaan akan kebudayaan Nusantara seperti banyak penghambatnya untuk maju, sehingga menimbulkan keresahan-keresahan. Keresahan itu pun kemarin dibahas secara seru dalam bincang santai bertajuk Paradigma Budaya untuk Reformisme di Nusantara di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malam (UM).

Rabu malam itu (27/2) Prof. Djoko Saryono Guru Besar UM bersama Dr. Azhar Ibrahim Alwee, P, Hd dari National University of Singapore pun banyak menelurkan gagasan-gagasannya. Terlebih melihat banyaknya kekacauan maupun pertentangan yang terjadi akhir-akhir ini, mereka sependapat bahwa penyebabnya kini budaya tidaklah sebagai panglima, tetapi yang menjadi panglima adalah konservatif agama dan ekonomi. “Paradigma budaya sekarang belum terjadi. Karena kita mudah menghakimi dan terkesan dangkal dalam memahami sesuatu,” terang Profesor Djoko.

Terlebih konservatif agama ini salah satu penghambat pemajuan budaya. Menurut dosen sekaligus budayawan ini kini banyak masyarakat sulit untuk diajak berpikir terbuka. Seperti ketika budaya wayang dan gamelan hendak dikembangkan, ada beberapa masyarakat yang menentangnya karena beranggapan itu bukan budaya Islam. “Namun saat diklaim negara lain, bangsa ini seolah-olah merasa budayanya dicuri. Ini menjadi hal yang lucu di era saat ini,” terangnya.

Sehingga untuk mereformis budaya di nusantara diperlukan kelenturan dalam melihat hal tersebut. Djoko cukup optimis reformis ini bisa dilakukan di Indonesia. Karena menurutnya kini pemerintah juga baru mencanangkan undang-undang khusus untuk pemajuan kebudayaan. Ini merupakan progresif dalam reformis kebudayaan yang sejak dulu dia dan teman-temannya perjuangkan. Walaupun kerap terhambat oleh para kaum konservatif tersebut. “Semoga saja undang-undang ini bisa berjalan mulus. Jangan sampai dikalahkan dengan konservatisme,” ujarnya.

Azhar pun dalam kesempatan bincang santai itu juga menerangkan keadaan yang saat ini terjadi di negaranya. Menurutnya di Singapura juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Terlebih kaum konservatif  juga cukup menghambat reformis dalam pengembangan budaya. Apalagi disana lebih komplek lagi. “Disana sampai ada yang melarang begini, jangan kau main gamelan, nanti lupa Tuhan. Padahal kan yang membuat lupa Tuhan itu Shoping,” kelakarnya.

Selain itu di Singapura ada kelompok western yang selalu ingin menunjukkan keinggris-inggrisannya. Sehingga budaya melayu rentan hilang di sana. Bagaimana tidak rentan budaya melayu hilang disana? Azhar yang menggebu-gebu itu menerangkan bahwa orang di Singapura semakin tidak menggunakan atau mengenal bahasa melayu dianggap keren dan semakin bagus. Terlebih ada anggapan bahwa orang yang bicara maupun mendalami melayu dianggap kuno. “Ini terjadi di negara kami, dan menjadi keresahan kami pula. Reformis paradigma kebudayaan inilah yang terus kami perjuangkan,” tegas Azhar. 

Pewarta    : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)