image_pdf

Malang- Kurang lebih dua bulan mahasiswa asing asal Amerika Serikat belajar bahasa dan kebudayaan Indonesia bersama mahasiswa asal Universitas Negeri Malang (UM). Program yang bernama Critical Langunge Scholarship (CLS) ini mengajarkan mahasiswanya untuk mengetahui cara bermain gamelan, cara menari tarian tradisional Indonesia seperti kuda lumping, membuat makanan khas Indonesia, membuat batik, pencak silat, dan bernyanyi lagu dangdut. Kemeriahan tersebut ditampilkan oleh 26 mahasiswa CLS pada penutupan program CLS 2019, Kamis (8/8). Kegiatan yang bertempat di Aula AVA Gedung E6 UM ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Sastra, President Director CLS, Direktur BIPA-UM, keluarga asuh mahasiswa CLS, guru di setiap kelas efektif CLS, mahasiswa CLS, dan tutor. Acara penutupan program yang berkerjasama dengan Departemen Luar Negeri AS ini dimulai pada pukul 15.00-18.00 WIB yang berakhir dengan gala dinner.

Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., menyampaikan ucapan selamat kepada mahasiswa CLS 2019 yang telah melewati masa belajarnya dan beliau juga bersyukur selama pelaksanaan kegiatan ini tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga asuh yang sudah menjadi tempat untuk tinggal sekaligus untuk berpraktik bahasa Indonesia, karena percepatan belajar bahasa Indonesia itu akan dirasakan ketika mahasiswa mengikuti program imersi. Jadi mahasiswa dicelupkan dan mereka dicelupkan dalam keluarga itu”, jelasnya.

Selama dua bulan mahasiswa asing ini didampingi oleh tutor yang menemani mereka untuk mengeksplor hal-hal yang berada di UM, di kota Malang bahkan di Jawa Timur. Prof. Utami Widiati juga berharap dengan terlaksananya program ini ke-26 mahasiswa CLS 2019 dapat menambah wawasannya mengenai Indonesia dan menjadi lebih tertarik lagi dalam mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia.

Pada penutupan CLS kali ini salah satu mahasiswanya yang sekaligus menjadi MC acara tersebut menyampaika kesannya selama dua bulan mengikuti program ini. “Saya bisa bertemu orang terbaik di dunia dan saya akan rindu semua tutor mahasiswa dan guru”, ujar Natalie. “Saya juga berterimakasih kepada tutor-tutor, guru-guru, dan orang tua asuh yang telah membantu kami belajar bahasa dan kebudayaan Indonesia”, tambah Mike. Genevieve juga menambahkan bahwa ia datang ke Indonesia dengan mengikuti program ini untuk belajar bahasa baru, mendapatkan pengalaman baru, dan teman-teman baru.

Pewarta           : Salsabila Indana Zulfa-Internship Humas UM