image_pdf

Malang- Sarasehan yang dilakukan setiap bulannya oleh Pusat Pengkajian Pancasila (P2P) UM yang bergerak langsung di bawah pengawasan Rektor UM, kali ini mengusung tema “Pemilu dan Politik Identitas: Refleksi Pesta Demokrasi 2019”. Hal tersebut berkaitan dengan suasana pesta demokrasi yang telah berhasil dilewati oleh masyarakat Indonesia dan sebagai bentuk refleksi masyarakat dalam bernegara untuk menghadapi isu-isu politik yang berkembang saat ini. Kegiatan yang dilaksanakan di Lt. II Gedung P2P UM ini dihadiri oleh dosen-dosen UM dan UB serta para mahasiswa dari berbagai jurusan di UM (20/6). Abd. Mu’id Aris Shofa dosen Jurusan HKN Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM merupakan narasumber dari sarasehan yang dihadiri oleh 42 peserta.

Sarasehan yang bertujuan untuk menjadi media refleksi pesta demokrasi yang telah dilaksanakan serentak di Indonesia menuntut masyarakat agar menjadi pribadi yang cerdas dalam menanggapi isu politik. Slamet Sujud Purnawan Jati menjelaskan mengenai pemilu akbar atau pesta demokrasi dalam sambutannya.

“Dikatakan sebagai pemilu akbar dikarenakan Pileg dan Pilpres dilaksanakan secara serentak. Pada saat itu, kita mencoblos lima kartu suara dan tercatat bahwa jumlah pemilihnya juga terbesar yaitu sekitar 192 juta dengan partisipasi pemilihnya mencapai 80%”, ujarnya. Tidak hanya itu saja, fenomena yang terjadi di pemilu akbar yang menimbulkan berbagai macam isu-isu politik yang menyebar secara luas melalui jejaring media sosial juga turut menjadi pelengkap pesta demokrasi saat itu.

Berdasarkan hal tersebut Abd. Mu’id Aris Shofa sebagai narasumber memaparkan “Ketika kita menghadapi suatu fenomena sebagaimana tadi sudah dijelaskan, baik dari sisi pelaksanaan, biaya, dan sisi hoax. Bedasarkan hal tersebut mau tidak mau kita terlibat dalam politik, seperti yang dikatakan Aristoteles bahwasanya manusia adalah makhluk yang berpolitik. Walaupun kita tidak berperan sebagai pelaku, tetapi kita bisa menjadi subjek atau objek politik itu sendiri”, terangnya.

Selain itu, Abd. Mu’id Aris Shofa juga menegaskan bahwasanya kita semua tidak bisa melepaskan konteks dari kajian politik karena mau tidak mau kita akan terlibat di dalamnya. Selanjutnya beliau juga menegaskan bahwasanya politik bukan hanya menjadi bagian atau keputusan bagi sarjana politik atau orang-orang hukum dan pemerintahan saja, tetapi semua orang turut bertanggungjawab dalam kehidupan dunia perpolitikan. 

Pewarta           : Salsabila Indana Zulfa-Internship Humas UM

Pewarta Foto   : Riki Pratama-Internship Humas UM