image_pdf
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M. Si. saat memberikan materi

Malang- Target kita bukan sekadar pemerataan akses, tetapi akses yang berkualitas. Sepanggal kata yang mengawali seminar nasional yang disampaikan oleh Menteri Pendidikana dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M. Si. Seminar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM) ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa S1, S2, dan S3 baik dari UM maupun dari universitas lainnya.  Seminar yang diselenggarakan di Graha Cakrawala UM ini dimulai pada pukul 07.00-15.00 WIB, dengan mendatangkan dua pemateri yakni Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si. dan Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd. Seminar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si., ini berjudul Arah Baru dalam Pengembangan Pendidikan Nasional ini dibuka langsung oleh Rektor UM, Senin (2/9).

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si. menyampaikan bahwa tantangan pendidikana di Indonesia adalah mutu pendidikana yang masih sangat rendah. “Hal tersebut terbukti dengan hasil belajar siswa Indonesia-seperti ditunjukkan oleh hasil PISA, TIMMS, UN, dan AKSI masih berkurang dan tidak ada peningkatana  signifikan selama 10 tahun terakhir”, terang Mendikbud RI. Beliau juga menjelaskan selain dari mutu pendidikan tantangan pendidikan di Indonesia juga terletak pada akses pendidikan, dimana masih banyak terdapat anak usia seolah yang tidak sekolah terutama pada jenjang pendidikan menengah.

Seminar Nasional FIP dihadiri ribuan peserta

“Kondisi infrastruktur sekolah-sekolah di Indonesia belum sepenuhnya baik, masih terdapat sekolah yang mengalami rusak berat, hal ini juga merupakant antangan dari pendidikana di Indoensia. Mutu layanan pendidikana di Indonesia juga belum merata, masih ada 28% sekolah bermutu baik dan berkonsentrasi di perkotaan, selain itu masih ada 12,2% sekolah yang belum terakreditasi, dan juga masih banyak anak-anak miskin yang bersekolah di sekolah berkualitas rendah dan harus memabayar relative mahal”, jelasnya.

Saat ini Kemendikbud tengah melaksanakan strategi pemerataan pendidikan yang berkualitas, dimana terdapat enam komponen. Percepatan wajib belajar 12 tahun dengan gerakan kembali ke sekolah dan kesiapan setahun pra sekolah, kemudia pembelajaran keterampilan abad-21 (higher-order thinking skills), profesionalisme, kualitas, pengelolaan, dan penempatan guru. Pengembangan anak usia dini holistic integrative, afirmasi pendidikana, dan pemenuhan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas. Beliau juga menambahkan untuk membantu mewujudkan hal tersebut Kemendikbud telah menyediakan laman resmi berupa Rumah Belajar.

Pewarta           : Salsabila Indana Zulfa-Internship Humas UM