image_pdf

Nama Genta Kiswara tentu sudah tidak asing lagi bagi para pecinta sastra masa kini. Penulis yang sudah merilis tiga buku berjudul Pada Sebuah Kata Pergi, Evolusi Rindu, dan Nelangsa ini mampu mengikat hati para pembaca untuk larut dalam nuansa sedih nan mendayu-dayu yang hadir di ketiga buku tersebut. Selasa malam, 30 April 2019, Genta Kiswara hadir langsung di Gedung Sasana Krida Universitas Negeri Malang (UM) dalam acara Malam Pujangga yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia UM. Selain berbincang mengenai isi buku-bukunya, Genta juga bicara mengenai proses kreatif dan awal mula perjalanan karirnya di dunia kepenulisan.

Genta Kiswara yang memiliki hobi travelling ini awalnya mulai merasa bahwa ada lahan di media sosial yang bisa ia manfaatkan untuk mengekspresikan diri. Jika sebagian besar traveller hanya menulis hal-hal yang memiliki kaitan dengan tempat yang dikunjungi saja, maka Genta ingin menjadi berbeda. Ia menuliskan kesan-kesan syahdu mengenai tempat yang ia kunjungi. Ternyata, tulisannya tersebut banyak disukai orang. Genta juga berpesan bahwa kita tidak perlu merasa down atau rendah diri saat orang-orang mempertanyakan kenapa foto dan caption yang kita unggah di media sosial tidak memiliki keterkaitan sehingga menimbulkan komentar negatif. Genta menyatakan bahwa kita tetap berhak mengekspresikan diri dalam bentuk apapun di media sosial kita. Lagipula, jika kita tetap konsisten mengunggah karya yang kata orang “nggak nyambung” itu, lama-lama orang lain akan menganggap itu biasa dan tidak lagi aneh.           

Selain menghadirkan Genta Kiswara, turut hadir pula Tri Prasetyo dari pihak penerbit Gradien Mediatama, yaitu penerbit yang menerbitkan ketiga buku Genta. Tri Presetyo, atau yang akrab disapa TP, menjelaskan kisah awal bertemunya dengan Genta sampai dengan kerja sama yang akhirnya menghasilkan tiga buku tersebut. TP juga menyoroti terkait penyebaran e-book melalui grup WA yang bisa merugikan pihak penerbit dan penulis.

Acara yang dihelat sejak pukul 19.00 WIB ini dibuka dengan teatrikalisasi puisi. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana Malam Pujangga, Ketua HMJ Sasindo, dan perwakilan dari Ketua Jurusan Sastra Indonesia. Selepas sambutan, peserta disuguhi tari tradisional, teater persembahan dari Teater Pelangi, serta persembahan lagu yang dibawakan oleh Ricard Ditto. Malam Pujangga diakhiri sekitar pukul 22.00 WIB dengan tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir.

Penulis: Novia Anggraini

Mahasiswa Pascasarjana S2 Pendidikan Bahasa Indonesia