image_pdf
Toni Masdiono mempresentasikan materi

Malang. Universitas Negeri Malang (UM) cukup beruntung Kamis Malam (16/1) bisa dihadiri maestro komik nasional Toni Masdiono. Walaupun asli Malang namun sejak 90-an dia telah melanglang buana di dunia perkomikan Nasional dan Internasional dengan karya-karyanya yang cukup nyentrik. Malam itu di Kafe Pustaka UM, dalam talk show “Ngobrol Santuy Bareng Sam Toni” dia memberikan banyak masukan untuk kekaryaan mahasiswa UM, khususnya para mahasiswa jurusan Seni Rupa hingga Game Animasi Fakultas Sastra.

Dalam kesempatan langka itu, pria yang sudah pernah terlibat dalam penggarapan komik Marvel hingga karakter game Tekken sejak 90-an menceritakan pengalaman-pengalamnnya. Terlebih ketika dia berguru menggambar pada maestro komik silat Teguh Santosa. Teguh yang juga asli Malang pun banyak mempengaruhi kekaryaan Toni. Terlebih dalam menggambar komik bergenre silat. “Seperti karya terbaru saya berjudul Karimata 1890 ini, menceritakan tentang para pengembara yang ahli dalam ilmu silat,” ujar pria yang kerap diundang menjadi juri menggambar ini.

Dia masih ingat ketika di tahun 1980-an selalu menunggui gurunya di Alun-alun Malang untuk belajar membuat gambar hingga mencari inspirasi dalam kekaryaan. Teguh yang terkenal dengan komik silatnya itu kerap mendorong Toni agar menggambar komik dengan cerita-cerita asli budaya nusantara. Karena dengan menggambar budaya sendiri akan lebih mudah dalam mengembangkan cerita-ceritanya. “Budaya sendiri bisa kita eksplore sesuka hati karena itu yang kita tahu, saya pun diwanti-wanti agar tidak terpengaruh dengan maraknya komik super hero karena akan terjebak pada mandeknya cerita. Karena super hero bukalah budaya kita,” ungkap komikus yang kini lebih banyak waktunya di Bandung ini.

Kebiasaan untuk mencari inspirasi ketika hendak membuat komik dari Teguh pun terus dilakukan hingga saat ini dan ingin dia tularkan kepada mahasiswa UM malam itu. Terlebih dia menceritakan bagaimana Teguh adalah seniman yang suka sekali melahap bacaan-bacaan novel yang mempertajam cerita di komiknya. Selain suka membaca novel dia pun kerap menonton film-film di bioskop untuk kepentingan karya-karya komiknya. “Penyakit para ilustrator maupun komikus biasanya adalah kurang suka membaca. Sehingga dalam cerita tidak bisa kuat. Kebiasaan membaca harus diterapkan sejak dini,” terang pria yang biasa disapa Sam Toni ini.

Dengan era digital sekarang ini pun para komikus bisa dengan mudah menjangkau segala referensi dan bahan bacaan yang berkualitas. Sehingga menurut Toni tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan karyanya dengan membaca dan mengikuti ivent-ivent menggambar untuk mengasah skill. Dia pun bercerita pada tahun 1995-an pernah mengikuti perlombaan desain corel di Kanada. Karena sulitnya akses internet saat itu, berhari-hari dia harus menunggu satu desain gambarnya bisa terkirim ke Kanada. “Dengan kemudahaan-kemudahan  saat ini saya harap para komikus muda terutama di Malang agar terus mengembangkan karyanya,” harapnya.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)