image_pdf

Penyemprotan Handsanitizer Memasuki Area Sholat Idul Adha

Malang. Jemaah Shalat Idul Adha 1441 Hijriah di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (31/7), mematuhi protokol kesehatan seperti pengecekan suhu badan saat masuk kampus, disemprot handsanitizer dan menjaga jarak saf shalat yang telah dipersiapkan oleh panitia pelaksana.

Tahun 2020 ini pelaksanaan Sholat Idul Adha 1441 H berbeda dengan sebelumnya yang biasanya dilaksanakan di Masjid Al-Hikmah UM, untuk tahun ini dilaksanakan di Lapangan Parkir Graha Cakrawala. Pusat Pengembangan Kehidupan Beragama dan Kuliah Universiter (PK2KBKU) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) selaku panitia pelaksana telah mempersiapkan setiap titik saf sebagai penanda yang akan ditempati setiap jamaah.

Sambutan Rektor UM Prof. Dr. H. AH. Rofi’uddin, M.Pd

Turut hadir Rektor UM Prof. Dr. H. AH. Rofi’uddin, M.Pd dan KH. Imam Ma’ruf selaku imam dan khatib dalam Sholat Hari Raya Idul Adha tersebut.

Dalam sambutannya, Rofi’uddin menyampaikan bahwa pandemi ini mengubah aspek dalam berbagai bidang kehidupan yang tidak hanya interaksi, kegiatan, belajar tetapi dalam hal ibadah juga ada perubahan dan penyesuaian dalam pandemi Covid-19.

Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dengan Menerapkan Protokol Kesehatan

“Jamaah Sholat Idul Adha 1441 H, tahun ini UM mengalami perubahan dan penyesuaian dalam penyelenggaraan yang biasanya ada kegiatan penyembelihan qurban namun untuk tahun ini ditiadakan dan sebagai gantinya qurban-qurban yang telah terkumpul dari Civitas UM langsung di kirim ke masyarakat sekitar dalam kondisi hidup. Hal ini merupakan kebijakan yang telah di ambil oleh UM dalam kegiatan penyembelihan qurban untuk menghindari adanya kerumunan warga” Jelas Rektor UM.

Selain itu KH. Imam Ma’aruf selaku kothib dalam khotbahnya juga menjelaskan bahwa sejarah yang menandai Hari Raya Idul Adha ini adalah Nabi Ibrahim AS yang mendapatkan utusan dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail AS.

Khotbah oleh KH.Imam Ma’ruf

Dalam khotbah singkat tersebut juga dijelaskan terkait adanya suatu yang hilang yaitu pengajaran. Pengajaran yang dimaksud adalah memberikan contoh atau teladan karena antara murid dan guru tidak saling bertemu dan tidak mendapatkan figur-figur yang dicontoh. Dalam hal ini maka kita semua perlu berkorban waktu, pikiran, melakukan inovasi untuk tetap menjalankan pengajaran tersebut.

Pewarta : Riki Pratama – Internship Humas UM

Pewarta Foto : Abdul Fattah– Internship Humas UM