image_pdf
Ari Gunawan berfoto dengn Backdrop Kampus Startup di Korea, memetakan asal negara peserta tahun ini yang lolos final

Malang. Setelah sukses meraih prestasi dalam ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2019 yang diselenggarakan di Udayana Agustus lalu, beberapa mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) juga menunjukkan eksistensinya dengan berhasil mencapai prestasi dibidang yang lain. Salah satunya adalah Ari Gunawan mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, 2017 dari Tim KerabaTani yang dalam Pimnas 2019 ini berhasil meraih dua medali perunggu, dan saat ini lolos mengikuti program magang dan kuliah stratup bisnis selama satu semester di Korea Selatan. Rencananya Ari dan salah seorang rekan dalam timnya bernama Made Radikia Prasanta akan mewakili KerabaTani di Korea hingga akhir tahun ini.

Dihubungi via Whatsapp pada 18 September lalu, Ari mengisahkan bagaimana kesuksesannya dalam ajang Pimnas 2019 telah mengantarkan ia untuk mengikuti program startup satu semester di Korea Selatan. Menurutnya saat pimnas lalu ia masuk dalam PKM T tentang penerapan teknologi, dengan membuat system smart farming yang diberi nama KerabaTani. KerabaTani pada dasarnya adalah teknologi 4.0 dibidang pertanian yang diaplikasikan dengan Kelompok Tani Mitra Mandiri di Kota Batu Jawa Timur selama 3-4 bulan masa panen. “Alhamdulillah kita dapat meningkatkan produktifitas dan penurunan biaya produksi mitra kerja kami”ujarnya.

Dinner bersama rekan kelas membahas project persiapan startup (Ari, Jaket Merah)

“Dilatarbelakangi ingin membantu petani untuk terus meningkatkan produktifitas pertaniannya dengan menghemat biaya produksi, kami membuat teknologi revolusi industri di bidang pertanian yang kami sebut KerabaTani. KerabaTani merupakan suatu alat sensor yang memiliki enam sensor dalam satu alat dan bisa mengirimkan data ke cloud yang terintegrasi dengan HP, dimana petani dapat menerima informasi melalui HP aktifitas apa saja yang dapat dilakukan pada lahan pertaniannya. Melalui berbagai percobaan akhirnya kami berhasil menerapkan teknologi ini,”sambung pria yang lahir di Samarinda Kalimantan Timur ini.  

“Raihan dua perunggu dalam pimnas kemarin menjadikan prestasi yang membanggakan bagi tim kami, kami benar-benar bersyukur atas capaian tersebut. Terlebih lagi kami juga bersyukur karena dua orang dari Tim kerabaTani didelegasikan untuk mengikuti magang dan kuliah di startup campus Korea. Awal mula kami mendaftar Korea Startup Grand Challenge (KSGC) 2019 hingga kami diundang ke Jakarta oleh Kementerian Koperasi dan UKM yang bekerjasama dengan Pangyo Startup Campus Korea untuk presentasi di Hotel Ariobimo Sentral , Lt 8, Jakarta. Panita KSGC ini mengadakan seleksi di setiap Ibukota Negara di dunia, antara lain Jakarta, Tokyo, Kuala Lumpur, Singapura, Hanoi, London, Washington, Swiss, dan kota lainnya. Dimana ada 97 negara di seluruh dunia. Dari setiap seleksi yang diadakan oleh Panitia KSGC diambil dua perwakilan, dimana total ada 1.167 tim diseluruh dunia dan hanya disisihkan 40 tim yang diterima. Luar biasa, kami berhasil masuk dalam 40 besar Tim yang lolos ke korea tersebut,”jelasnya dengan semangat.

Diskusi dan Mentoring Bersama Prof. Lee Seogyoung University, dan peserta lain

Menurut mahasiswa yang hobi Menulis dan berbisnis ini Selama berada di Korea, 40 tim yang lolos tersebut mendapatkan pendanaan, dimana setiap tim mendapatkan $10.500 atau sekitar Rp 150.000.000 untuk melakukan penelitian dan pengembangan teknologi di Korea. “Begitu pula kami yang mendapat Rp 150.000.000 sebagai modal pengembangan teknologi KerabaTani hingga dapat termanfaatkan masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Selama di Korea, sehari-harinya kami juga melakukan aktifitas perkuliahan mulai dari mentoring, belajar mengajar, dan pengembangan bisnis startup dari KerabaTani. Selama perkuliahan kami fokus pada pengembangan startup,”ungkapnya.

“Beberapa rencana kerja yang akan kita jalankan hingga bulan Desember nanti adalah pengembangan produk kerabatani, dengan melakukan kerjasama dengan produsen sensor di Korea, sehingga komponen-komponen kerabatani akan dimodifikasi dan dikombinasikan dengan produk Korea. Setelah itu kita akan memproduksi prototype, dilanjutkan dengan penelitian terkait penerapan Kerabatani di Korea. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah kesuksesan kerabatani di Indonesia juga bisa sukses di Korea. Setelah itu kita mencari supplier barang dari China atau Korea sendiri,  dengan biaya produksi yang terjangkau diharapkan kami bisa menjual alat kerabatani di Indonesia lebih murah,”harap pria kelahiran bulan April ini.

Bertemu dan meeting dengan Partner Bisnis di Kampus .

“Di bulan desember nanti kami akan diseleksi kembali untuk diambil 20 tim terbaik yang akan mendapatkan dana pengembangan teknologi dari bulan Januari-April 2020 untuk membangun bisnis sampai bisa dokomersialisasikan. Selain melakukan rencana kerja pengembangan teknologi Kerabatani, kami juga akan melakukan bisnis performance seperti meeting, event, networking, dan branding website. Teknologi kerabatani ini juga akan menyasar pada green house di Korea, bahkan tidak menutup kemungkinan bisnis startup yang kita bangun ini akan menarik investor,”tandas mahasiswa yang ingin jadi sosio-technopreneur ini.

Pewarta: Kautsar S. Humas UM