image_pdf
Wakil Rektor I Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si bersama keynote speaker

Malang. Sebagai salah satu pendekatan kemitraan global, sejak tahun 2013 Jurusan Teknik Sipil FT-UM mengembangkan kerja sama jangka panjang dengan Masyarakat Geo-polimer Indonesia-Malaysia, Universitas Malaysia Perlis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Kristen Petra, dan KORIGI (Konsorsium Riset Geo-polimer Indonesia). Di bawah kerja sama ini, beberapa kegiatan penelitian, seminar bersama, dan konferensi internasional telah diselenggarakan secara teratur.

Pada tahun 2017, Jurusan Teknik Sipil FT-UM, bersama dengan mitra konsorsium, telah berhasil menyelenggarakan International Conference on Green Civil and Environmental Engineering (GCEE) pertama. Banyak sarjana dan akademisi telah membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka pada acara yang bermanfaat itu.

Konferensi GCEE ke-2 kembali diadakan oleh Jurusan Teknik sipil FT UM pada 4-6 September 2019 bertempat di Hotel Atria Malang. Seminar internasional ini menghadirkan lima orang narasumber yang berkompeten dibidangnya, antara lain Prof. Buntara Sthenly Gan dari Nihon University Japan, Prof. dr. Ir. Diederik Rousseau dari Ghent University Belgium, Prof. Hsieh Lung Hsu dari National Central University Taiwan, Assoc. Prof. Januati Jaya Ekaputri dari ITS Surabaya, dan Apif Miftahul Hajji, Ph.D dari UM.

Apif Miftahul Hajji, Ph.D selaku ketua pelaksana

Apif Miftahul Hajji, Ph.D selaku ketua pelaksana dan native speaker pada seminar internasional ini memaparkan fakta kondisi global dan krisis penghijauan saat ini. “Saat ini, kondisi bumi sedang mengalami pemanasan global yang meningkat setiap tahunnya. Hal ini membutuhkan peningkatan efisiensi dalam penggunaan energi yang ramah terhadap lingkungan. Dunia industri kedepannya diharapkan mampu untuk memperbarui kualitas pembangunan gedung yang bernuansa penghijauan guna meningkatkan sirkulasi udara yang bersih akibat tercemar polutan. Pedoman ini dapat membantu lingkungan agar tetap terhindar dari pemanasan global dan tantangan untuk membuat penghijauan di seluruh dunia, “Ungkapnya.

“Berbagai macam kegiatan dalam mengantisipasi pemanasan global yang intens di seluruh dunia, metode dalam mencapai efisiensi dan penggunaan energi, adalah beberapa upaya dalam meminimalkan kerusakan lingkungan. Industri konstruksi berperan besar dalam kampanye untuk mengantisipasi pemanasan global. Stakeholder yang terkait dengan industri konstruksi, termasuk pemilik bangunan, perencana, pembangun, operator, dan penduduk, serta akademisi dan peneliti memainkan peran mereka sebagai agen layanan konstruksi untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Konsep yang dikenal sebagai Konstruksi Hijau menuntut semua pelaku industri untuk memperhatikan aspek lingkungan. Semua pihak harus mengikuti prinsip, kode, dan peraturan yang berkelanjutan, mulai dari tahap perencanaan, penggunaan bahan, tahap pengembangan, operasi, hingga periode pemeliharaan,”lanjutnya.

Wakil Rektor I UM membuka secara resmi GCEE 2019

“Dilaksanakannya seminar internasional ini diharapkan dapat mempertajam kontribusi dan menjadi pernyataan kuat Jurusan Teknik Sipil FT-UM dalam isu nasional dan internasional tentang bangunan hijau, lingkungan, dan keberlanjutan. Konferensi Internasional ke-2 ini diadakan sebagai forum berbagi. Semua akademisi, peneliti, dan mahasiswa diundang untuk membagikan pengalaman mereka dalam menjawab tantangan. Konferensi ini, sebagai kelanjutan dari konferensi sebelumnya, akan membahas topik-topik berikut: teknik berkelanjutan dalam bangunan dan infrastruktur, geopolimer dan aplikasinya, pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur, sistem sanitasi dan opsi teknologi, teknologi berkelanjutan untuk pengolahan air dan air limbah, bangunan hijau, pengelolaan sumber daya air, dan pengelolaan,”jelasnya.

Wakil Rektor I Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si saat membuka seminar internasional ini menyampaikan bahwa masalah penghijauan lingkungan dan aplikasinya telah menjadi salah satu sumber daya utama yang digunakan dalam penelitian (terutama dalam konstruksi dan penelitian teknologinya) dan dibanyak kalangan pendidikan.

penyerahan Plakat UM kepada Keynote Speaker

“Sebagian besar lembaga pendidikan tinggi membuat pilihan dan pendekatan sumber daya mereka untuk merespons dengan kuat masalah penghijauan yang berdampak global ini. Di sini di Universitas Negeri Malang (UM), masalah telah ditangani secara kelembagaan, melalui Fakultas Teknik, terutama di Jurusan Teknik Sipil. Melalui institusi ini, universitas kami melakukan upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya dan potensi untuk memulai dan mengembangkan apa yang kami sebut teknologi berkelanjutan ramah lingkungan untuk infrastruktur dan bangunan. Kelompok-kelompok penelitian di jurusan juga dapat dikolaborasikan oleh semua entitas di universitas kami untuk mendorong dan meningkatkan tidak hanya atmosfer penelitian tetapi juga kemitraan di antara para ahli dan lembaga yang lebih tinggi yang memiliki kepedulian dan gairah yang sama dalam isu-isu penciptaan lingkungan yang baik,”terangnya.

Untuk mengatasi masalah penghijauan dari segi teknik sipil dan lingkungan secara bersamaan, ada banyak tantangan untuk kesiapsiagaan jangka panjang, termasuk pendekatan teknologi, hukum, keuangan, dan organisasi. Namun, ini adalah masalah profesional bagi kita semua yang terlibat dalam penciptaan, penyebaran, dan pengelolaan pengetahuan untuk memastikan informasi yang kita tangani dapat tersedia untuk generasi mendatang. Ini juga merupakan masalah pembangunan bagi masyarakat untuk menjamin bahwa akumulasi pengetahuan akan digunakan di masa depan untuk mendorong kemajuan lebih lanjut.

Prof. dr. Ir. Diederik Rousseau dari Ghent University Belgium saat menyampaikan materi

“Untuk mempercepat pemanfaatan pengetahuan, UM telah membuat formulasi yang relevan dalam Misi dan Rencana Strategis 2018-2023. Disebutkan bahwa UM akan mendorong ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian, untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat, dan untuk mendapatkan pengakuan nasional dan internasional. Untuk tahun yang akan datang, UM memiliki beberapa kebijakan prioritas sebagai berikut: memperkuat peta jalan penelitian, mengembangkan pusat keunggulan, memperkuat konsorsium penelitian, meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, serta hak kekayaan intelektual. Konferensi seperti GCEE tentunya menjadi salah satu tonggak bersejarah bagi kebijakan ini,”tandasnya.

Pewarta           : Said Maulana Ibrahim-Intern Humas UM

Pewarta Foto   : Kautsar S-Humas UM