image_pdf
Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd (sisi kiri layar), Prof. Dr. Suyono, M.Pd (sisi tengah kiri layar), Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto , M.Ed., M.Si. (sisi tengah kanan layar)
saat mengadakan bincang santai dengan JTV Malang.

Malang. Universitas Negeri Malang (UM) merupakan kampus yang mendidik mahasiswa/i untuk menjadi seorang pendidik. Di samping mencetak calon guru, UM juga mendidik tenaga professional dan para wirausahawan muda. Universitas Negeri Malang (UM) sebagai kampus yang mengedepankan Excellence in Learning Innovation, mengutamakan kemampuan dan mutu lulusan berikut mutu pembelajarannya.

Pada tangal 16 Februari 2021, UM mengadakan bincang santai untuk penerimaan mahasiswa baru tahun 2021 bersama JTV yang disiarkan secara live streaming. Bertindak selaku narasumber adalah Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto , M.Ed., M.Si selaku Wakil Rektor (WR 1), Prof. Dr. Suyono, M.Pd selaku staf ahli WR 1 dan Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd selaku ketua SPM (Satuan Penjaminan Mutu) Universitas Negeri Malang.

Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto , M.Ed., M.Si selaku Wakil Rektor I UM

“Untuk bisa bergabung dengan UM, calon mahasiswa perlu melihat keketatan dari program studi. Misalnya, program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Matematika, PGSD, Manajemen itu memiliki persaingan yang cukup ketat. Jadi usahakan memiliki skor diatas 600 untuk bisa kompetitif di jurusan-jurusan dengan keketatan tinggi. Rumus keketatan program studi adalah semakin banyak peminat sebuah program studi maka persaingan akan semakin ketat.” Jelas Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto selaku Wakil Rektor 1 Universitas Negeri Malang.

“UM juga membuka program merdeka belajar. Pertama bisa mengambil lintas prodi, lintas jurusan bahkan lintas fakultas dan universitas dari dalam dan luar negeri. Bagi yang ingin belajar dalam prodi saja maka program merdeka belajar kami arahkan untuk pengembangan potensi diri, misalnya program kreativitas mahasiswa, KKN, kegiatan UKM Wajib yakni pramuka untuk 2 semester pertama dan satu UKM pendukung misalnya UKM IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) serta program magang sesuai dengan regulasi dari UM.” Jelas Prof. Dr. Suyono, M.Pd selaku staf ahli Wakil Rektor 1.

Prof. Dr. Suyono, M.Pd selaku staf ahli Wakil Rektor 1
saat memberikan penjelasan tentang UM

“Namun saudara/i tidak usah khawatir, kami di sini memperlakukan saudara/i secara equal dengan standar penilaian yang sama. Kami memiliki mahasiswa dari Nunukan, Papua bahkan ada juga dari Malaysia sisi timur mengambil kuliah S1 di kampus UM. Untuk S2 dan S3, kami memiliki mahasiswa dari Jepang, Myanmar, Republik Rakyat China (RRC), Timor Leste dan berbagai negara lain. Kami tidak melihat status, keturunan, kedudukan sosial apalagi suku.

Kami berprinsip seperti Ki Hadjar Dewantara, Mendikbud pertama RI, yang dalam sekolah Taman Siswa memanggil seluruh murid baik keturunan priyayi dari komunitas bangsawan maupun priyayi sekolahan dan komunitas abangan dengan sebuatan Ki dan Nyi secara merata dan identik. Kami juga menerima mahasiswa dari komunitas disabilitas, bahkan ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yang dipimpin oleh mahasiswa disabilitas.” Ungkap Prof. Dr. Suyono, M.Pd.

“Berkenaan mutu dosen, kami kontrol dan evaluasi tiap semester. Mahasiswa/i menyampaikan pendapat tentang kualitas pembelajaran melalui aplikasi Siakad. Jadi selain kuliah berbasis IoT (Internet of Things), mahasiswa juga berhak untuk memberi masukan kepada kami secara anonim. Ini wajib bagi kawan-kawan mahasiswa dan mahasiswi, kalau tidak disampaikan pendapat tentang kualitas pembelajaran nilai akhir tidak akan tampak per matakuliah. Selain itu kami rekrut dosen dari guru dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun, kami juga rekrut dosen yang berpengalaman di bidang transprotasi dan bisnis online, bahkan kami rekrut pula dosen yang memiliki pengalaman kerja sebagai peneliti di Max Plank Institute dan Lembaga-lembaga riset lainnya.” Jelas Prof. Dr. Suyono, M.Pd.

Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd
selaku ketua SPM (Satuan Penjaminan Mutu) Universitas Negeri Malang

Ketua Satuan Penjaminan Mutu (SPM) UM, menjelaskan bahwa kampus UM merupakan kampus dengan beragam latar belakang. Namun, berbagai macam latar belakang itu tetap memegang teguh prinsip kesetaraan dan standar dari segi evaluasi dan assessment. Dari hasil pendidikan di UM, banyak alumni UM sudah terbukti diterima di masyarakat luas.

“Ada alumni UM yang menjadi guru di Thailand, Malaysia, Philipina, Mesir dan Arab Saudi serta daerah-daerah 3T. Ada juga yang mengajar di perusahaan-perusahaan dan BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) bagi calon diplomat Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Berdasarkan data dari tracer study¸ ada alumni program S1 UM, yang menjadi kepala sekolah di umur di bawah 25 tahun di sekolah milik Yayasan yang dikelola oleh Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Lembaga keagamaan, sosial serta kemasyarakatan lainnya. Ada pula alumni UM memiliki kreativitas di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Alumni UM tersebut membuka start-up pelatihan keterampilan membuat media pembelajaran, dan terbukti beberapa kali mengadakan seminar secara online, pesertanya ribuan setiap kali seminar.” Ungkap Dr. Imam Agus Basuki.

“Alumni UM pada tingkat S2, selain kami latih publikasi di jurnal nasional kredibel atau jurnal internasional bereputasi, kami ajari juga multi disiplin ilmu. Ada alumni kami, berdasarkan tracer study, menjadi dosen dan juga wirausaha membuka Café yang di dalamnya terdapat kegiatan bermusik, seminar teater, dan nongkrong. Hasilnya, komunitas start up banyak yang menyewa tempat untuk promosi. Di masa pandemi dia malah membuka usaha kuliner online dan membuat tetater serta membuat lagu dengan tema penerapan protokol kesehatan di Youtube. Hasilnya, alumni ini mendapat pemasukan dari kuliner online dan Youtube yang lumayan untuk tiap minggu hanya dari jualan kuliner online dan iklan di akun youtube.” Jelas Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd.

“Alumni UM pada tingkat S3, selain kami didik untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi tinggi pada bidangnya serta buku referensi, kami ajari untuk memiliki kemampuan transdisiplin ilmu. Ada Alumni S3 setelah lulus dari UM, menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta dan pada saat yang bersamaan membuka workshop hypnosis dikombinasikan dengan seminar bisnis dan pelatihan motivasi di Surabaya, Jawa Timur. Pada masa sebelum pandemi, setiap minggu dia seminar di hotel dengan tiket 10-15 juta rupiah untuk 3 hari seminar. Pada masa pandemi ini, dia membuka konsultasi via zoom atau google meet, dengan satu kali sesi 3 jam konsultasi senilai 5 juta rupiah tiap individu, padahal ada 6 sesi, jadi totalnya ada 30 juta rupiah per peserta untuk 6 sesi konsultasi online. Itu laris sekali, info yang masuk ada peserta sampai rela kredit agunan ke salah satu Bank Swasta demi ikut pelatihan alumni kami tersebut.”  Lanjut Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd.

“Jangan ragu-ragu untuk bergabung dengan UM, setelah lulus nanti akan kami beri sertifikasi profesi dari LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) UM. Selain itu, akan ada Job Fair atau penyaluran lapangan kerja. Para alumni S1, S2 dan S3 kami pertemukan dengan pemilik sekolah ataupun usaha. Ada sekolah nasional, nasional plus, negeri maupun internasional. Perusahaan yang datang dari perusahaan nasional, multinasional bahkan internasional yang bergabung dalam job fair ini. Jika ingin berwirausaha baik bidang educatorprenuership maupun bidang industry kreatif, perdagangan, barang dan jasa akan kami buatkan pelatihan untuk wirausaha, termasuk bagaimana membuat badan usaha berupa CV ataupun PT.” Jelas Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd.

“Saat ini beberapa prodi di UM telah mendapat akreditasi internasional dari AUN-QA (ASEAN quality assurance network in higher education) pada tahun 2018-2020. Pada tahun 2021, kami berjuang untuk mendapatkan akreditasi AQAS (Agentur zur Qualitätssicherung), lembaga akreditasi internasional yang berlokasi di Republik Federal Jerman. Mohon bantuan doa restunya.” Ungkap Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd.

Penulis: Ferril Irham Muzaki – Dosen KSDP FIP Universitas Negeri Malang

Live streaming dapat dilihat di

https://www.youtube.com/watch?v=zh8HmcXcfuk