image_pdf

Malang. Universitas Negeri Malang (UM) sedang berduka, kamis (10/09) Prof. Drs. H. Effendy, M. Pd., Pd. D salah satu guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) meninggal dunia di usia 64 tahun. Jenazah disemayamkan di kampung halamannya, di desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang pukul 11.00 WIB.

Rektor UM, melalui Kepala Sub Bagian Humas Ifa Nursanti, S. AP mengungkapkan bahwa Prof. Effendy bukan meninggal karena Covid-19 melainkan sempat mendapatkan perawatan dengan diagnosa sepsis dan multiple organ failure. “Almarhum meninggal dunia di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang pada pukul 08.30 WIB” jelasnya.

Sebagai guru besar di bidang kimia,  peran beliau sangat besar dalam membangun keilmuan di jurusan kimia UM sehingga menjadi rujukan se-Indonesia. Program Studi S-3 Pendidikan Kimia awalnya hanya di UM saja. Kontribusinya dalam pembelajaran di SMA juga sangat besar, banyak buku-buku kimia yang lahir dari tangan beliau,  baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Demikian juga dengan buku-buku untuk perguruan tinggi

Ada kisah menarik yang diceritakan Dr. Munzil, M. Si Koordinator Prodi Pendidikan IPA saat ini, bahwa beliau almarhum mendesain dan mencetak buku-buku karyanya sendiri agar bisa dijual murah. Sehingga buku-buku beliau bisa didapatkan dengan kualitas yang bagus, tetapi dengan harga yang terjangkau.

“Beliau adalah sosok yang sangat rendah hati,  suka membimbing yang muda,  dan memiliki integritas yang kuat” ungkapnya mengenang sosok Prof. Effendy. Pemenang Habibie Awards tahun 2012 untuk bidang basic science ini, memiliki peran yang besar dalam membangun kultus akademik di UM. Diantara prestasi beliau yang lainnya adalah peneliti islam terkemuka dalam bidang kristalogi, penemu 730 senyawa baru, H Indek Scopusnya 14, penulis buku produktif dalam bidang anorganik serta publikasi paling produktif di UM bahkan salah satu paling produktif di Indonesia.

Satu hal lagi yang tak akan terlupakan tentang beliau adalah beliau sangat menikmati profesinya sebagai dosen. kuliahnya pasti selalu overload  yang seharusnya 2 jam kuliah, bisa jadi 4 jam. Yang penting mahasiswa masih suka mengikuti kuliah beliau. “Kami sangat kehilangan beliau” ujar Dr. Munzil lirih.

Pewarta           : Arya Wahyu Pratama           –Internship Humas UM