image_pdf

Malang. Seminar Nasional Nitisastra IV yang diselenggaran Program Studi Magister dan Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) berjalan sukses. Dengan menghadirkan tiga narasumber berskala nasional ini membuat para peserta seminar antusias dalam mengikuti materi-materinya. Kegiatan yang mengusung tema Menghargai Identitas Kebhinekaan dalam Perubahaan Masyarakat Melalui Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia pun dibawakan oleh ketiga pemateri dengan cukup memukau.

Salah satu materi yang cukup memukau para peserta yang hadir di gedung AVA E6 Fakultas Sastra diantaranya ketika Robi Navicula memberikan paparannnya terkait kebhinekaan dan perubahan masyarakat. Sabtu itu (19/10) pemateri yang merupakan vokalis band Navicula ini pun awalnya menceritakan terkait proses kreatifnya dalam menciptakan lirik-lirij lagu Navicula yang erat sekali dengan tema isu lingkungan, anti korupsi, hingga keberagaman masyarakat ini. “Tema-tema lirik lagu yang saya ciptakan memang erat dengan kehidupan dan pengalaman saya. Karena saya adalah seorang petani kopi, isu lingkungan ini sangat dekat dan mempengaruhi saya,” ungkap pria yang memiliki nama asli I Gede Roby Supriyanto ini.

Dari petani kopi ini lah dia menangkap beberapa perubahan masyarakat yang terjadi di Indonesia. Diantaranya seperti cara hidup masyarakatnya yang kini mulai meninggalkan bercocok tanam dalam mencukupi kehidupannya. Terlebih jika dihitung secara prosentase anak-anak muda yang memang benar-benar ingin menjadi petani sangatlah minim. Hal ini menurutnya sangat ironi ketika Indonesia sendiri dari dulu terkenal dengan negara agraris. “Data yang kami himpun menyebutkan hanya 3% saja anak muda kini yang benar-benar terjun di sektor pertanian. Sehingga tidak ayal sekarang banyak impor bahan makanan,” tegas musisi yang juga sebagai aktivis lingkungan ini.

Robi dalam pemaparannya juga menyinggung terkait cara hidup masyarakat Indonesia yang kini tak bisa hidup tanpa plastik. Terlebih dalam pencemaran lingkungannya plastik sangat berdampak, karena kerap menjadi masalah utama pencemaran seperti di sungai hingga di laut lepas. Hal ini juga diterangkan Marsda TNI Dr. Sungkono, S.e, M.Si yang juga menjadi pemateri dalam kegiatan seminar Nitisastra IV ini. “Rendahnya kesadaran memelihara lingkungan hidup merupakan cerminan menurunnya rasa cinta tanah air,” ungkap jendral bintang dua yang kini sebagai Deputi Pengembangan Dewan Ketahanan Nasional.

Menurutnya kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin hari semakin parah. Kondisi tersebut secara langsung telah mengancam kehidupan manusia. Tak hanya itu tingkat kerusakan alam pun meningkatkan risiko bencana alam. Terlebih Sungkono menjelaskan kerusakan alam tak hanya disebabkan akibat peristiwa alam sendiri, namun juga akibat ulang manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengelola alam. “Kerusakan lingkungan hidup memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia. Sehingga mari jaga lingkungan,” tegasnya.

Adapun pemateri ketiga adalah Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd guru besar Sastra Indonesia UM. Dalam pemaparannya dia lebih menjelaskan peran pendidikan sastra dan Bahasa Indonesia yang bisa digunakan dalam merawat kebhinekaan sekaligus merawat lingkungan disekitarnya. Menurutnya tidak jarang beberapa sastra lisan di Indonesia mengajak masyarakatnya untuk menjaga alam. Seperti di Bugis yang memiliki La Galigo yang sudah diakui oleh dunia. “Sajak La Galigo ini menceritakan kisah asal usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis hidup sehari-hari yang berdampingan dengan alam,” terang ahli sastra ini.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)