image_pdf
MC Semnas membuka kegiatan

Poor. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM) pada tanggal 7 Maret 2021, mengadakan seminar online dengan tema Peta Jalan Pendidikan dan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Kegiatan ini menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di bidangnya yakni H. Syaiful Huda (Komisi X DPR RI), Dr. Syamsuri dari Kemendikbud yang mewakili Sekjen Kemendikbud Prof. Ainun Naim, Ph.D, Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd (Ketua Umum ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) dan Guru Besar UPI), Prof. Dr. IM Hambali, M.Pd (Guru Besar Universitas Negeri Malang), dan  Prof. Dr. Yatim Riyanto, M.Pd (Pembina Aliansi Pejuang PNFI dan Guru Besar UNESA).

Kegiatan seminar nasional kali ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. A. Roffi’udin, M.Pd selaku Rektor UM. Dalam sambutan pembukaan, Prof. Dr. A. Roffiuddin, M.Pd menjelaskan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia saat ini berada dalam kondisi turbulensi yang cukup parah.

Rektor UM Saat memberikan sambutan pembuka

“Saya pikir kita harus memikirkan peringkat anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Indonesia. Mereka perlu diajarkan keterampilan dan kecakapan untuk hidup. Ranking di tes PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mayoritas belum merata, selalu ada di peringkat bawah. Ini adalah angka yang dirilis di website milik Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). Karena itulah seminar ini diadakan dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut.” Ulas Prof. Dr. Ahmad Roffi’uddin dalam sambutannya.

Seusai sambutan dari Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Ahmad Roffi’uddin, M.Pd. acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata secara simbolis oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd, kepada H. Syaiful Huda selaku pembicara, diikuti pengiriman Cinderamata via paket kepada pembicara lainnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengantar tentang makna pendidikan dari Dr. M. Arafik, M.Pd, Doktor muda Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Suasana webinar melalui streaming Youtube FIP UM

“Pada intinya, pendidikan saat ini perlu dilandasi dengan semangat untuk berjuang. Dalam artian, keberadaan komunitas belajar perlu dilakukan untuk mempertajam konsep pendidikan karakter. Pada sisi lain, konsep ini perlu mengedepankan prinsip kemanusiaan.” Ulas Dr. M. Arafik, M.Pd.

H. Syaiful Huda dari Komisi X DPR RI memberi ulasan tentang nuansa pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari memegang peranan utama dalam menyongsong nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Menurt H. Syaiful Huda, sudah saatnya pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak generasi Indonesia emas 2024.

Dr. Syamsuri dari Kemendikbud saat memberikan Materi

“Saya rasa sudah saatnya dikembangkan konsep bahwa guru merupakan teknokrat yang ditugaskan untuk mendidik generasi muda. Dengan keberadaan konsep guru sebagai teknokrat, saya kira teman-teman guru akan lebih semangat dalam berpartisipasi untuk mendidik dan memajukan bangsa. Di sisi lain, guru sebagai teknokrat menghindarkan pendidikan dari komersialisasi dan politik praktis. Jangan sampai karena kepentingan sesaat komersialisasi dan politik praktis peta jalan pendidikan menjadi tidak diindahkan.” Urai H. Syaiful Huda dari Komisi X DPR RI.

Dr. Syamsuri dari Kemendikbud yang mewakili Sekjen Kemendikbud Prof. Ainun Naim, Ph.D menjelaskan bahwa peringkat di PISA itu harus disikapi secara wajar. Maknanya, sudah saatnya kita perlu meningkatkan kualitas guru-guru kita dengan berbagai macam program.

Sesi tanya jawab dari peserta seminar

“Dengan meningkatnya kualitas guru, maka diharapkan peluang naik peringkat terjaga. Namun tujuan akhirnya adalah murid-murid di lingkungan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mampu berpikir kritis dan menjadi insan yang tangguh. Urai Dr. Syamsuri dari Kemendikbud dari Kemendikbud.

Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., (Ketua Umum ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) dan Guru Besar UPI) menjelaskan bahwa pada dasarnya pendidikan saat ini memang dilanda berbagai macam permasalahan, terutama pandemi Covid-19 ini.

“ Ada potensi terjadi Loss Learning. Ini harus dicegah sedemikian rupa, mengingat tahun 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka itu terjadi dalam waktu dekat. Ini meski disikapi secara bijak dan seksama.”

Prof. Dr. IM. Hambali, M.Pd selaku Guru Besar Universitas Negeri Malang menjelaskan bahwa penting sekali untuk ditanamkan konsep pendidikan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang dituangkan dalam program Merdeka Belajar Kemendikbud.

“Saya sendiri kurang sependapat dengan pendidikan yang terlalu konservatif, akan tetapi saya juga kurang sependapat dengan nilai-nilai pendidikan yang terlalu liberal. Saya berpendapat bahwa nilai-nilai Pancasila perlu ditanamkan sejak sekarang melalui program Merdeka Belajar Kemendikbud.” Urai Prof. Dr. Imam Hambali, M.Pd.

Prof. Dr. Yatim Riyanto, M.Pd (Pembina Aliansi Pejuang PNFI dan Guru Besar UNESA) menjelaskan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter perlu diperhatikan. Utamanya pendidikan karakter

“Maknanya bahwa banyak sekali rekan-rekan yang tidak memiliki kesempatan untuk sekolah formal. Untuk itulah maka perlu dipikirkan pula tenaga tutor yang mengajar di bimbingan belajar dan kursus.  Makanya, proses pendidikan karakter yang mereka lakukan perlu juga mendapat apresiasi.” Ulas Prof. Dr. Yatim Riyanto, M.Pd.

Acara kemudian ditutup dengan Closing Statement dari Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM, Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Dalam Closing Statement, beliau menyampaikan bahwa perlu diadakan revitalisasi pendidikan nasional yang mengedepankan kepribadian Pancasila sebagai landasan dari pendidikan karakter.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi panel para pemakalah via aplikasi Zoom.

Penulis: Ferril Irham Muzaki – Dosen KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.