image_pdf

Malang. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Barangkali kalimat tersebut cocok bagi Ilyas Rachman Ryandhani. Di usianya yang masih terbilang belia Mahasiswa  Prodi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga UM ini, telah menorehkan setidaknya 80 penghargaan sejak Sekolah Dasar hingga SMK. Bahkan yang terbaru, ia menyabet tiga juara dunia pada ajang World Deaf  Youth Badminton Championship Taiwan 2019 di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran. Hal inilah yang mengantarkannya sebagai salah satu atlet bulutangkis tingkat Internasional.

Namun pencapaian luar biasa tersebut, tidak ia dapatkan dengan mudah layaknya membalikkan tangan. Jalanan yang terjal telah ia lalui sejak kecil. Keterbatasan menyandang tuna rungu tidak mematahkan semangatnya, justru hal itu menjadi semangat tersendiri baginya. Banyak orang berpengaruh dibalik kesuksesannya yang paling utama adalah dukungan dan doa dari orang tua. Andriyani Trilestari Ibunda Dani mengisahkan bahwa bakat terpendam putranya mulai muncul saat ia diajak melihat kakaknya latihan. Sejak saat itu, diusianya yang masih lima setengah tahun ia diikutsertakan latihan juga.

Ibunda Dani mengetahui bahwa Dani berkebutuhan khusus saat putranya berusia 20 bulan. Butuh waktu untuk menerima dengan ikhlas dan memahami kondisi putra bungsunya tersebut. Baginya semua anak memiliki talentanya tersendiri entah itu muncul dengan sendirinya atau muncul setelah diasah. “untuk itu, jangan pernah menyembunyikan anak-anak kita terutama anak berkebutuhan khusus dari semua kegiatan yang bisa dikerjakan anak-anak umum, karena anak berkebutuhan khusus pun bisa” pesannya.

Hingga kini, Dani telah 14 tahun menekuni olahraga bidang bulutangkis ini. Meskipun begitu kepada Internship Humas UM, Pria kelahiran Karawang 14 Mei 2001 itu mengatakan bahwa masih banyak hal yang ingin ia capai di masa mendatang. “saya bersyukur bisa berada di posisi saat ini, tapi karena ada beberapa pencapaian yang belum tercapai, saya akan tetap berusaha lagi mengingat usia saya yang masih muda saya masih harus mencari pengalaman yang lebih luas” ujarnya. Hingga kini, ia tercatat sebagai atlet di Pusat Latihan Kabupaten, Provinsi, dan beberapa persiapan untuk internasionalnya.

Terkait aktifitas kuliahnya di masa pandemi ini, Ia berujar bahwa masih bisa mengerjakan tugasnya dengan maksimal meskipun menemui sedikit kesulitan saat Zoom atau Google Meet hingga membutuhkan bantuan penerjemahan dari orang di rumah. Kepada mahasiswa UM ia berpesan untuk tetap fokus dan kosentrasi belajar walaupun di masa pandemi ini. “jangan pernah lengah sedikit pun, karena waktu tidak akan terulang, manfaaatkan masa muda dengan hal positif, agar pikiran kita juga positif untuk mendapatkan hasil yang maksimal” pesannya.

Pewarta: Arya Wahyu Pratama – Internship Humas UM