Malang – Tim PKM Riset Sosial Humaniora (RSH) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menembus ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38. Tim yang mengusung kajian disforia gender pada pria feminin ini membuktikan bahwa keberanian mengangkat isu sensitif dapat berujung pada prestasi nasional.
Bermula dari keputusan tanpa ekspektasi besar, Tim Disforia Gender —yang juga dikenal sebagai Tim Renjana— memilih topik yang jarang disentuh dalam riset mahasiswa. Isu disforia gender pada pria feminin dipandang penting untuk dikaji secara ilmiah guna menjawab dinamika sosial yang berkembang sepanjang 2025. Pendekatan objektif menjadi landasan utama agar subjek penelitian tidak merasa dihakimi, melainkan dipahami.
Didukung latar belakang keilmuan yang relevan, tim ini diperkuat mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling serta S1 Psikologi. Kombinasi disiplin tersebut memungkinkan riset dilakukan secara mendalam dan terarah berdasarkan kerangka teori yang tepat.
Dibentuk oleh Nadin Nurma dan Aulia Retno, mahasiswi S1 Bimbingan dan Konseling angkatan 2024, Tim Renjana lahir dari pencarian ide PKM-RSH yang selaras dengan bidang studi dan kebutuhan masyarakat. Proses penyusunan tim hingga pengajuan proposal sempat mengalami dinamika, namun dukungan dosen pembimbing Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd. menjadi penguat utama selama tahap pembinaan hingga pendanaan.
Ditempa melalui pembinaan intensif bersama PKM Center UM, tim menghadapi jadwal padat yang menuntut komitmen tinggi. Dhika mengungkapkan, “Waktu bersama keluarga berkurang, tetapi saya yakin ini proses yang harus diperjuangkan.” Diskusi santai di luar jadwal resmi pun dilakukan untuk menjaga soliditas tim.
Dimulai sejak 15 Juli 2025, riset dilaksanakan melalui tahapan sistematis, mulai dari sosialisasi, penentuan kriteria informan, hingga pelaksanaan penelitian. Dua tujuan utama ditetapkan, yakni mengkaji dimensi disforia gender pada pria feminin dan menelaahnya melalui perspektif teori psikososial Erik Erikson. Hasil riset menegaskan pentingnya ruang aman bagi subjek untuk mengekspresikan emosi dan perjalanan identitasnya.
Berujung pada PIMNAS 38 di Universitas Hasanuddin, capaian ini menjadi momen tak terlupakan.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini,” ujar Nadin saat diwawancarai Tim Humas UM pada Selasa (19/1).
Tim Disforia Gender berharap kisah perjalanan mereka memotivasi mahasiswa UM lainnya untuk berani berproses, mengangkat isu bermakna, dan bermimpi setinggi mungkin.
Pewarta: Silvia Manayatul Azizah – Mahasiswa Fakultas Sastra UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
