Tideng Pale — Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan peran nyatanya dalam penguatan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui Program Sekolah Unggul Masuk Desa (SUMD). Melalui pelatihan dan pendampingan berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang digelar pada Rabu-Jumat (17–19/6), UM mendorong kepala sekolah dan guru di Kabupaten Tana Tidung untuk meningkatkan kompetensi sekaligus menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan bagi peserta didik. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung SDGs tujuan ke-4, yakni pendidikan berkualitas.
Kegiatan yang melibatkan 10 satuan pendidikan pelaksana SUMD itu tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga pada penguatan dampak langsung di ruang kelas. Kehadiran tim dosen lintas disiplin dari UM, ~mulai dari pendidikan IPS, matematika, hingga teknologi pembelajaran,~ memperlihatkan pendekatan yang menyeluruh dalam menjawab kebutuhan sekolah di lapangan. Pendampingan ini penting agar guru tidak sekadar memahami materi, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi secara bermakna dalam proses belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung, Arman Jauhari, S.H., menyampaikan apresiasi kepada UM atas pendampingan yang berkelanjutan. Ia menilai kerja sama itu benar-benar menjawab tantangan pendidikan di daerah 3T yang memerlukan komitmen bersama. “Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Tim Universitas Negeri Malang yang secara berkelanjutan mendampingi kemajuan pendidikan di daerah kita,” ujarnya.
Arman juga menekankan perlunya perubahan budaya kerja pendidik, dari sekadar memenuhi dokumen administratif atau compliance menuju kompetensi nyata yang dirasakan peserta didik di kelas, atau competence. Menurut dia, manfaat kegiatan ini akan lebih terasa apabila hasil pelatihan benar-benar diterapkan, bukan berhenti di atas kertas. Penekanan ini penting karena kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari kelengkapan administrasi, tetapi dari dampaknya terhadap pengalaman belajar siswa.
Manfaat program SUMD turut terlihat dari capaian pendampingan tahun 2025. Evaluasi mencatat skor 3,28 dari 4,00 atau kategori sangat baik, dengan tingkat kedisiplinan peserta mencapai 91,4 persen. Dari program ini pula lahir lebih dari 80 modul ajar, 200 lembar kerja peserta didik (LKPD), serta berbagai media pembelajaran dan instrumen asesmen yang dapat langsung digunakan guru di sekolah. Capaian itu menjadi bukti bahwa pendidik di wilayah 3T memiliki kapasitas untuk berinovasi dan menghasilkan praktik pembelajaran yang berkualitas.
Dari sisi penguatan sumber daya manusia, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung juga memberikan beasiswa S2 kepada 42 guru dan kepala sekolah di UM. Hingga Juni 2026, sebanyak 56 persen peserta telah lulus ujian tesis dan 37 persen lulus uji kemampuan bahasa Inggris ~(UKBIN)~ UKBING. Skema ini memberi manfaat jangka panjang karena peningkatan kualifikasi akademik para pendidik akan langsung berdampak pada mutu sekolah, kepemimpinan pendidikan, dan kualitas pembelajaran anak-anak di daerah tersebut.
Program SUMD menjadi bukti bahwa kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat melahirkan perubahan konkret. Bagi Tana Tidung, manfaatnya bukan hanya pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga pada tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah unggul, penguatan ekosistem pendidikan, dan hadirnya model replikasi bagi daerah 3T lainnya di Indonesia. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, langkah ini sejalan dengan semangat pemerataan akses dan mutu pendidikan sebagaimana diamanatkan SDGs.
Pewarta – Dr. Juharyanto, M.M., M.Pd. — Kepala PMSB-PJJ LPPP UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
