Skip to content
image_pdf

Malang—Pada pagi yang mendung di sebuah kota kecil di Indonesia, Muslihin, seorang pekerja kantoran, merasa matanya berat setibanya di kantor, meskipun malam sebelumnya ia tidur dengan nyenyak. Suara hujan yang lembut di luar jendela seolah menjadi alunan alami yang mengajak kita untuk beristirahat. Saat cuaca dingin menyelimuti, tubuh sering kali merasakan dorongan untuk memejamkan mata. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi?

Secara ilmiah, tubuh kita memiliki mekanisme alami yang menjelaskan mengapa cuaca dingin membuat kita lebih mudah mengantuk. Salah satu faktor utamanya adalah suhu tubuh yang berperan dalam mengatur pola tidur. Ketika suhu lingkungan menurun, tubuh kita cenderung menyesuaikan diri dengan menurunkan suhu internal. Proses yang dikenal sebagai termoregulasi ini membuat kita merasa lebih nyaman, mengurangi aktivitas metabolisme, sehingga kita merasa rileks dan mudah mengantuk.

Selain itu, cuaca dingin sering kali disertai dengan langit mendung dan kurangnya sinar matahari. Minimnya paparan sinar matahari mengurangi produksi serotonin di otak, neurotransmitter penting yang menjaga suasana hati dan energi tetap stabil. Tanpa cukup serotonin, kita cenderung merasa lelah dan mengantuk lebih cepat.

Muslihin, yang biasanya energik di pagi hari, mendapati dirinya sering menguap dan kehilangan fokus. Meski telah meminum kopi panas, perasaan kantuk tetap menghantuinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kondisi kantor yang temaram, dengan cahaya redup dari sela-sela jendela kaca ruangan ber-AC, memicu tubuh memproduksi lebih banyak melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Produksi melatonin meningkat saat malam atau ketika kondisi gelap, memberi sinyal pada tubuh bahwa sudah waktunya beristirahat. Inilah mengapa, ketika cuaca mendung dan dingin, kita merasa lebih mengantuk meskipun hari masih siang.

Fenomena ini mengingatkan Muslihin pada masa kecilnya, saat hujan deras membuatnya tertidur lelap di pelukan ibunya. “Mungkin saat cuaca dingin, kita secara tidak sadar merasa lebih aman dan nyaman, seperti saat kita kecil dulu,” pikirnya.

Namun, bagaimana kita bisa mengatasi rasa kantuk saat cuaca dingin, terutama ketika harus tetap produktif? Salah satu cara efektif adalah dengan tetap aktif bergerak. Muslihin memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar kantor setiap jam sekali. Aktivitas fisik ringan ini membantu meningkatkan sirkulasi darah dan membuatnya merasa lebih segar.

Selain itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih sangat penting. Dehidrasi yang sering diabaikan saat cuaca dingin juga bisa menyebabkan kantuk. Makan camilan sehat yang kaya akan protein dan serat juga membantu menjaga energi tetap stabil sepanjang hari.

Akhirnya, Muslihin menemukan bahwa menyalakan lampu lebih terang di ruang kerja sangat membantu mengurangi produksi melatonin dan membuatnya lebih terjaga. Sinar terang ini meniru efek sinar matahari yang biasanya menstimulasi otak untuk tetap waspada.

Jadi, saat cuaca dingin membuat Anda mengantuk, ingatlah bahwa itu adalah reaksi alami tubuh. Dengan beberapa langkah sederhana seperti tetap aktif, minum cukup air, dan memastikan lingkungan sekitar cukup terang, kita bisa tetap produktif meskipun rasa kantuk mencoba merayu untuk tertidur. Muslihin pun berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, meski cuaca dingin dan mendung di luar jendela masih terus berlanjut.

Pewarta: dr. Farid Eka Wahyu Endarto – Dokter Klinik Pratama UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it