PKBK LPPP UM Kunjungi Desa Sekaran Kabupaten Kediri Guna Menguatkan Sikap Toleransi Beragama
Bagikan:
Bagikan:
Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman budaya, sudah sepatutnya warga Indonesia senantiasa menggaungkan sikap toleran setiap saat. Sikap menghargai orang lain yang berbeda keyakinan harus ditanamkan sejak dini. Oleh karena itu, Pusat Kehidupan Beragama dan Karakter (PKBK) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LPPP) Universitas Negeri Malang (UM) melakukan studi banding ke Desa Sekaran, Kabupaten Kediri. Acara yang dilakukan pada Kamis (27/07) ini bertujuan untuk menguatkan wawasan dan perilaku moderasi beragama di kalangan mahasiswa UM. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan BEM dan UKM keagamaan di UM.
Ketua PKBK, Dr. Achmad Sultoni, S.Ag, M.Pd.I., menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk berdiskusi dan melihat secara langsung kehidupan yang rukun dan damai di tengah keberagaman agama. Kegiatan ini dirintis oleh PKPB LPPP sejak tahun 2022, sehinggabeliau berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan agar pemahaman toleransi dapat dilakukan lebih baik lagi.
Desa Sekaran sendiri dipilih karena telah dinobatkan sebagai Desa Sadar Kerukunan Beragama pada Desember 2021. Maka dari itu, desa ini patut dijadikan contoh bagi para mahasiswa untuk meningkatkan sikap toleransi beragama.
“Jujur, menurut saya hal ini secara realistis sangat sulit untuk dilakukan, apalagi warganya cukup banyak dengan keyakinan dan pemikiran yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus mempelajari kiat-kiat menumbuhkan sikap toleran bagi seluruh warga desa ini,” ujar dosen pendidikan bahasa arab itu.
Kepala Desa Sekaran, Purdiman, mengaku senang dan bangga terhadap kedatangan UM ke desa itu. Ia menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena adanya komunikasi yang baik antar tokoh umat beragama. Pada awal masa jabatannya, Purdiman mengumpulkan seluruh tokoh agama masing-masing dan melakukan diskusi secara terbuka. Sejak saat itu, antara pemerintah desa dengan para tokoh umat beragama selalu berkoordinasi untuk menciptakan lingkungan yang damai.
“Keberhasilan warga desa juga ditentukan oleh sesepuhnya. Jika sesepuh atau tokoh agama bisa guyub rukun, maka pasti umat serta anak-anak akan mengikuti,” ucap kepala desa yang telah dipercaya selama tiga periode itu.
Diskusi dilakukan bersama tokoh dari empat agama di Desa Sekaran, yaitu Priyanto sebagai tokoh agama Hindu, Yakobus Katiman sebagai tokoh agama Katolik dan Viky Febri Irawan sebagai tokoh agama Kristen. Dari agama Islam diwakili oleh dua organisasi, yaitu Nizar Afandi dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Fandy Fitrianto Kurniawan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Sebagai perwakilan NU, Nizar menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat memicu perpecahan adalah pemahaman agama yang tidak seimbang.
“Agama adalah keyakinan yang dipahami berdasarkan teks (kitab suci) dan disiarkan oleh orang-orang terpilih. Oleh karena itu, pasti ada banyak penafsiran yang beragam sehingga perlu saling memahami dan toleransi antar umat beragama,” tuturnya.
Toleransi di Desa Sekaran makin tinggi dengan adanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Sebagai penengah, forum ini memoderasi antar umat beragama dan mengajak para warga untuk saling bahu-membahu satu sama lain. Ketika salah satu umat beragama merayakan hari raya, maka warga beragama lain akan saling membantu dan mengamankan kegiatan agar kegiatan dapat dilakukan dengan damai.
“Dari hal kecil saja, contohnya para warga membantu mengamankan jalan dan tempat parkir itu sudah menjadi perilaku toleransi. Kesadaran diri ini tidak bisa dibangun dalam satu dua hari, namun harus ditanamkan sejak dini,” kata Fandy sebagai perwakilan LDII.
Perwakilan agama Kristen, Viky menjelaskan bahwa keberagaman tidak hanya di lingkungan desa, namun juga di lingkup keluarga.
“Mbah (kakek) saya itu Hindu, ayah dan ibu saya Kristen, saudara saya banyak yang Muslim. Ketika hari raya dan berkumpul bersama, tidak terasa ada perbedaan. Kami memperlakukan satu sama lain selayaknya saudara tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.
Sebagai warga asli Desa Sekaran, Viky berharap para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah bisa menanamkan sikap toleransi beragama di lingkungan masing-masing. Dengan itu, para mahasiswa UM bisa menjadi pelopor generasi muda yang menjunjung toleransi di Indonesia.
Sebelum kembali ke Malang, para mahasiswa turut mengunjungi rumah-rumah ibadah para warga desa. Di sana, mahasiswa berkesempatan mempelajari secara langsung kepada masyarakat tentang sikap toleransi yang sudah mendarah daging.
Pewarta: Nawal Kamilah Ismail – Internship Humas UM
Editor : Megasari Noer Fatanti, M.I.Kom