Malang – Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM) bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia Komisariat Malang Raya menggelar kuliah tamu bertema The Role of Accounting in Carbon Disclosure and Sustainability Performance pada Rabu (13/5). Kegiatan tersebut menjadi respons terhadap meningkatnya perhatian dunia bisnis global terhadap isu transparansi karbon dan pelaporan keberlanjutan.
Kegiatan ini menghadirkan Associate Director Deloitte Konsultan Indonesia, Efraim Sitinjak, sebagai narasumber utama. Sementara itu, keynote speech disampaikan Ketua IAI Komisariat Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati, dan dimoderatori oleh Dwi Narullia.
Lebih dari 200 mahasiswa S1 dan S2 Jurusan Akuntansi mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari sekitar 20 perguruan tinggi dan instansi, menandakan tingginya perhatian akademisi terhadap isu sustainability, carbon disclosure, dan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam dunia bisnis modern.
Ketua Program Studi S2 Akuntansi FEB UM, Dr. Makaryanawati, mengatakan tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi kebutuhan kompetensi baru bagi calon akuntan.
“Antusiasme peserta dari berbagai universitas menunjukkan bahwa isu sustainability dan carbon disclosure kini menjadi perhatian global yang harus dipahami mahasiswa maupun praktisi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Departemen Akuntansi FEB UM, Diana Tien Irafahmi, menegaskan bahwa dunia akuntansi tengah mengalami transformasi besar.
“Akuntansi tidak lagi hanya berbicara tentang angka, tetapi juga sustainability. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teori di kelas dapat diterapkan dalam praktik industri,” katanya.
Dalam keynote speech, Prof. Puji Handayati menekankan bahwa penerapan standar pelaporan keberlanjutan kini menjadi aspek wajib yang harus dipahami calon akuntan dan pelaku usaha. Ia menjelaskan, tahun 2026 menjadi momentum penguatan ekosistem pelaporan keberlanjutan melalui PSPK 1 dan PSPK 2 yang mewajibkan perusahaan mengungkap dampak iklim secara material dan selaras dengan standar global IFRS S1 dan IFRS S2.
“Transparansi karbon menjadi pondasi penting bagi reputasi bisnis Indonesia. Pemerintah juga menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 31,8 persen pada 2030,” jelasnya.
Menurutnya, pengurangan emisi karbon kini tidak lagi dipandang sebagai beban perusahaan. Emisi karbon telah memiliki nilai ekonomi karena dapat diperdagangkan dan berpotensi menjadi sumber pendanaan baru bagi perusahaan.
Sebagai salah satu perguruan tinggi berkonsep green campus, UM juga terus memperkuat komitmennya sebagai kampus yang sehat dan mencerdaskan melalui berbagai kegiatan akademik yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan kesadaran lingkungan.
Sementara itu, Efraim Sitinjak memaparkan tiga isu utama dalam kuliah tamu tersebut, yakni pengenalan sustainability, standar dan kerangka pelaporan keberlanjutan, serta hubungan ESG dengan akuntansi. Ia menilai peran akuntan saat ini semakin strategis dalam mendukung tata kelola bisnis berkelanjutan.
“Akuntan memiliki posisi penting dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas perusahaan terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan Prodi S2 Akuntansi FEB UM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 13 tentang penanganan perubahan iklim, dan poin 16 terkait penguatan tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Melalui kuliah tamu tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami perkembangan terbaru dunia akuntansi, terutama terkait carbon disclosure, sustainability reporting, dan implementasi ESG dalam praktik bisnis modern. Kegiatan ini sekaligus memperkuat dukungan akademisi terhadap kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan dan transparansi emisi karbon di Indonesia.
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
