
Dalam rangka berpartisipasi menjaga keseimbangan ekosistem laut, Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bertandang ke Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) pada Kamis (4/7). Kunjungan ke BSTC ini merupakan serangkaian kegiatan PRESS Workshop yang telah digelar sebelumnya. Dengan dibina oleh Ketua Pelaksana Dr. rer.nat. Safwatun Nida, M.Pd, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan FMIPA UM, Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si, dan 75 peserta yang terdiri dari pemateri luar negeri, dosen serta mahasiswa departemen IPA.
BSTC merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus di konservasi penyu. BSTC ini dikelola oleh warga dan dibantu para mahasiswa yang memiliki kesadaran penuh terhadap kelestarian penyu. Kawasan konservasi berdampingan dengan wisata Pantai Bajulmati yaitu, di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. BSTC juga aktif menanam mangrove sebagai upaya menangani abrasi dan erosi. Oleh karena itu, dengan bertandangnya Departemen IPA ke BSTC Dr. Nida berharap mampu mengedukasi para stakeholder yang terlibat. “Field trip ini melibatkan calon guru IPA, dosen, dan science education. Jadi, saya berharap kegiatan ini dapat mengedukasi mereka tentang konservasi penyu yang perlu dilestarikan dan menggali potensi konservasi penyu sebagai edukasi pembelajaran,” papar Dr. Nida dalam sesi wawancara bersama Humas UM.
Diawal kedatangan, para peserta disuguhi dengan deburan ombak dan pemandangan laut. Pemandu wisata BSTC mengarahkan peserta menuju lahan khusus menanam mangrove. Terdapat lima puluh lubang yang akan ditanami mangrove, namun sebelum melakukan penanaman pemandu wisata menjelaskan cara menanam, merawat dan pertumbuhan mangrove.

Usai menanam mangrove bersama, pemandu wisata mengarahkan peserta menuju sekolah alam dan tempat konservasi tukik (bayi penyu). Di sekolah alam, peserta belajar proses konservasi dan perawatan tukik. “Saat ini kami memiliki 7000 lebih calon tukik yang belum menetas, untuk yang sudah menetas kami rawat selama 40 hingga 60 hari sebelum dilepaskan, tukik yang kami karantina di berikan makan tuna untuk kelangsungan hidup dan kebutuhan protein sehari hari dan juga kami hindari interaksi langsung terhadap manusia serta paparan langsung sinar matahari” papar pemateri.
Di sekolah alam juga melakukan sesi penyerahan sertifikat oleh pengurus BSTC, Sutari kepada para dosen yang terlibat dan dekan FMIPA. Usai penyerahan dan foto bersama, pemandu wisata mengarahkan peserta untuk mengambil tukik dan bersiap melakukan pelepasan di bibir pantai. Tukik yang dilepaskan berjumlah 66 ekor, dengan harapan mereka mampu tumbuh dan berkembang biak secara baik di habitat aslinya.
Dr. Franz-Rauch pembicara PRESS asal University Klagenfurt, Austria mengapresiasi kegiatan Field Trip yang diadakan oleh Departemen IPA. “Saya mengapresiasi kegiatan yang diadakan IPA UM dalam mendukung keberlanjutan baik itu berupa penelitian maupun field trip seperti ini. Saya juga mengapresiasi para pekerja konservasi yang peduli dan menganggap pekerjaannya adalah salah satu hal yang penting,” tuturnya.
Pewarta: Inayah Amalia Taufani-Internship Humas UM
Editor : Suhardi-Humas UM
