
Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggelar International Seminar on Language, Education and Culture (ISoLEC) yang ke-8 pada Kamis – Jumat (11-12/07). Acara ini berlangsung di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 lantai 9. Pada tahun ini, ISoLEC mengangkat tema “Empowering Change and Transformation In Language, Education and Arts“.
Tema ini dipilih sebagai wujud konkret dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Seminar yang diadakan sejak 2017 ini menjadi ajang bergengsi bagi para akademisi, praktisi dan mahasiswa untuk berbagi pengetahuan dan inovasi dalam bidang bahasa, pendidikan dan seni. Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd.
“Tema ISoLEC tahun ini sangat relevan untuk menghadapi permasalahan di era globalisasi dan disrupsi teknologi yang membutuhkan inovasi mutakhir,” ungkap Prof. Hariyono di sela-sela sambutan.
Prof. Hariyono juga menekankan agar ISoLEC 2024 ini dapat menjadi sarana memperbaiki integritas akademik. Pentingnya seminar ini yaitu tidak hanya membahas aspek akademik tetapi juga berkontribusi dalam peningkatan integritas ilmiah.
“Saya harap seminar ini tidak hanya fokus membahas akademik dalam bidang Bahasa, Pendidikan, dan Seni, tetapi juga berkontribusi dalam peningkatan integritas ilmiah yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini,” sambungnya.
Hari pertama seminar diisi oleh berbagai pembicara kunci dengan berbagai materi presentasi yang menarik. Prof. Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd. dari UM membuka sesi pertama dengan topik “Transformasi Desain Pembelajaran Sastra untuk Mengembangkan Kompetensi Kewirausahaan Peserta Didik pada Era Industri Kreatif”.
Dalam presentasinya, Prof. Yuni memaparkan pentingnya adaptasi dalam pengajaran sastra di masa sekarang.
“Saat ini, guru sastra harus memahami dan mengikuti jiwa zaman agar sastra digemari oleh peserta didik. Menyikapi hal itu, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan komodifikasi sastra yang menyesuaikan karakteristik zaman dan kebutuhan peserta didik,” paparnya dengan jelas.
Prof. Yuni menekankan perlunya perubahan perspektif dalam pendidikan sastra. “Guna meningkatkan kompetensi dan kapasitas peserta didik dalam pembelajaran sastra, maka perlu adanya perubahan perspektif dari pendidikan sastra menuju pendidikan sastra berwawasan kewirausahaan yang sarat akan manfaat bagi peserta didik,” ungkap Guru Besar FS UM itu.
Sementara itu, disesi kedua Dr. Andrew N. Weintraub dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat memaparkan materi dengan topik “Indonesian Popular Music in National and International Education: Approaches, Values, Practices, and Strategies“.
Dr. Weintraub menjelaskan kompleksitas sejarah musik di Indonesia dari masa ke masa. “Sejarah musik di Indonesia sangatlah kompleks karena merupakan produk hibriditas antara persilangan budaya sejak masa kolonial hingga kontemporer yang dapat mencerminkan kondisi sosial budaya, politik, dan ekonomi suatu masa,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Dr. Weintraub juga menekankan pentingnya peran musik populer dalam pendidikan. “Musik populer dapat menjadi muatan dan kearifan lokal dalam kerangka sistem pendidikan, baik di Indonesia maupun skala internasional karena mengandung nilai-nilai yang dapat dipelajari oleh kelompok masyarakat tertentu,” jelasnya.
Selain kedua pemateri tersebut, ISoLEC 2024 dihari pertama juga menghadirkan pembicara hebat lainnya seperti Dr. H. Abang Hadzmin bin H. Abang Taha dari Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (Brunei Darussalam), Dr. Gabriella Perge dari Eötvös Loránd University (Hungaria), dan Dr. Willy Renandya dari Nanyang Technological University (Singapura).
ISoLEC 2024 berhasil menjadi sarana penting bagi pertukaran ide dan inovasi di bidang bahasa, pendidikan dan seni. Dengan tema yang diusung, seminar ini tidak hanya membahas perkembangan akademik tetapi juga menekankan pentingnya integritas ilmiah dan relevansi praktis dalam dunia nyata. Dengan demikian, ISoLEC 2024 meneguhkan posisinya sebagai salah satu seminar internasional terkemuka di bidang bahasa, pendidikan dan seni.
Pewarta: Paundra Wangsa Fajar Kusuma – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
