Malang – Laboratorium Pendidikan Agama Universitas Negeri Malang (LPA UM) terus berupaya mendorong generasi muda tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan spiritualitas. Upaya itu diwujudkan melalui Seminar Katolik bertajuk “Scrolling, Coding, Praying: Hidup Mahasiswa Katolik di Era AI” yang digelar UPT Laboratorium Pendidikan Agama UM di Aula Lantai 9 Gedung Pascasarjana A21 UM, Jumat (8/5).
Seminar tahunan tersebut menghadirkan Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., dan Prof. Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai program studi untuk membahas tantangan penggunaan teknologi dan AI terhadap kehidupan spiritual mahasiswa di era digital.
Wakil Rektor IV UM, Prof. Ahmad Munjin Nasih, menegaskan bahwa perkembangan teknologi membawa banyak kemudahan, termasuk dalam praktik kehidupan beragama. Namun, menurutnya, mahasiswa tetap perlu menjaga nilai religiusitas agar tidak larut dalam ketergantungan teknologi.
“Dulu kami selalu membawa kitab suci secara langsung, sekarang kitab suci sudah tersedia di handphone. Teknologi memang mempermudah, tetapi feel-nya tentu berbeda. Kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun religiusitas juga harus tetap diseimbangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan memanfaatkan AI secara bijak menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa di era transformasi digital. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi sarana pengembangan diri, bukan justru menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Sementara itu, Prof. Surjani Wonorahardjo menjelaskan bahwa seminar tersebut dirancang sebagai ruang refleksi bagi mahasiswa yang sehari-hari hidup berdampingan dengan media sosial dan teknologi digital. Tema seminar dipilih karena banyak mahasiswa mulai mempertanyakan batas penggunaan AI dalam kehidupan pribadi maupun akademik.
“Melalui kegiatan tahunan ini, kami ingin menghadirkan suasana yang nyaman bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan berefleksi bersama mengenai teknologi, kehidupan, dan spiritualitas,” tuturnya.
Menurutnya, derasnya arus informasi digital sering kali membuat mahasiswa kehilangan ruang untuk merenung dan mengenali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, seminar ini menjadi momentum untuk mengajak mahasiswa lebih bijak menggunakan teknologi tanpa meninggalkan identitas dan nilai religius yang dimiliki.
Melalui seminar tersebut, UM menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memiliki karakter spiritual yang kuat. Langkah ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-16 mengenai terciptanya masyarakat yang damai, inklusif, dan berkarakter di tengah transformasi digital.
Pewarta: Catharina Apriliandari Andreanti – Internship Humas UM
Fotografer: Moch Yusak Afandi – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
