
Departemen Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menggelar International Conference on Mathematics and Science Education (ICoMSE) 2023 yang diketuai oleh Kepala Departemen Pendidikan IPA UM, Habiddin, Ph.D. Acara ini dilaksanakan dalam beberapa rangkaian kegiatan selama dua hari. Konferensi sendiri dilaksanakan secara hybrid pada Senin-Selasa (14-15/08/2023) bertempat di Hotel Swiss-Belinn Malang.
Berbagai topik disampaikan oleh keynote speaker dari berbagai belahan dunia diantaranya: Prof. Melanie M Cooper dari Michigan State University, Prof. Rohaida Mohd Saat, Ph.D. dari Universiti Malaya, Prof. Dr. Chun Yen Chang dari National Taiwan Normal University, Taiwan, Prof. Dr. Gabriele Kaiser dari University of Hamburg, Germany, Prof. Dr. Lilia BT. Halim dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Prof. Madya Dr. Johari bin Surif dari Universiti Teknologi Malaysia.
ICoMSE 2023 yang mengusung tema Science and Mathematics Education Research for Sustainable Development, memiliki harapan adanya sharing best practice, knowledge, dan experience sehingga muncul adanya kolaborasi dan sinergi antara sivitas akademika dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik sesuai Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 tentang pendidikan yang berkualitas. Tema ini menjadi peran utama bagaimana pendidikan bisa menjadi bentuk kerangka kerja global dalam sektor pembangunan. Prof Madya Dr. Johari bin Surif UTM, Malaysia dalam materinya yang berjudul The Role of Science Education in Helping Achieving SDGs menegaskan bahwa Pendidikan adalah jantung dari upaya kita untuk beradaptasi dengan perubahan dan mengubah dunia tempat kita hidup.

“Pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang sadar, terutama dalam mengetahui dan menguasai keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan berkelanjutan dan mencapai SDGs. Diantara pendidikan yang menekankan keinginan untuk mencapai SDGS adalah pendidikan sains itu sendiri,”ujar Ketua Pelaksana.
Langkah semacam ini tercantum dalam bentuk dan peran sains itu sendiri, seperti tujuan dari pembelajaran, kurikulum dan strategi. Semakin baik kita memilih strategi belajar, maka semakin relevan pendidikan itu dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Pendidikan juga dapat diimprovisasi atau direalisasikan dengan baik dalam lingkungan masyarakat, salah satu contohnya dalam kuliah kerja nyata (KKN), studi kasus, dan beberapa improvisasi lainnya.
“Malaysia sendiri sudah menggarap program kegiatan mahasiswa ini, seperti pada contoh di Sungai Kim Kim. Sebelumnya Sungai Kim Kim menjadi sorotan tentang kelestariannya akibat adanya pencemaran, tetapi setelah 2 tahun program berjalan, Eco Park bisa dibangun dan bermanfaat bagi semua masyarakat”, ungkap Pengarah Pusat Jaringan Komuniti dan Industri UTM itu.
Dalam penerapannya, proyek kelestarian Sungai Kim Kim ini termasuk dalam SDGs ke-6, yaitu air dan sanitasi. Pendidikan sains tentu berperan dalam proyek serta program ini. Harapannya, pendidikan sains juga bisa menjadi salah satu cabang ilmu yang juga dapat membantu pembangunan global yang masif dan berkelanjutan. Hal ini ditentukan karena sains telah terbukti banyak membantu dalam membangun peradaban yang semakin lestari dan ramah lingkungan.
Pewarta: Muhammad Daffa Pradana – Internship Humas UM
Editor: Luthfi Maulida Rochmah
